Proposal Penelitian “Studi Geokimia dalam Penyelidikan Potensi Hidrokarbon di Daerah Jabung, Sub-Cekungan Jambi”

19 Mar 2011 at 4:03 am Leave a comment

PENDAHULUAN

Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek penelitian adalah karakterisasi minyak dan batuan induk di daerah Jabung, Sub-Cekungan Jambi, sedangkan obyek penelitian adalah meliputi data geokimia yang mencakup aspek data rutin seperti tipe kerogen, analisis Rock-Eval, data kromatografi baku, analisis fisik percontoh minyak, dan data khusus yang berkaitan dengan karakteristik atribut organofasies seperti data GC-MS (biomarker), biodegradasi dan data isotop sedimen maupun percontoh hidrokarbon.

Latar Belakang Permasalahan
Karakteristik geokimia minyak sangat penting untuk mengetahui informasi batuan induk dan kondisi lingkungan purba endapan batuan induk. Pengetahuan yang tepat tentang asal dan karakteristik minyak yang terbentuk dari batuan induk akan mempermudah pemahaman sistem minyak dan gas bumi di suatu daerah.

Kerangka Geologi Regional
Cekungan Sumatera Selatan terbentuk dalam wilayah Indonesia bagian barat dan merupakan salah satu cekungan sedimen belakang busur Tersier yang berada pada zona antara Paparan Sunda dan busur dalam volkanik. Secara umum daerah penelitian termasuk dalam Cekungan Sumatera Selatan, Sub-Cekungan Jambi, yang berada di sayap utara Depresi Jambi (de Coster, 1974).

Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan Tersier berarah baratlaut-tenggara yang dibatasi Sesar Semangko dan Bukit Barisan di sebelah baratdaya, timur laut oleh Paparan Sunda, Tinggian Lampung di sebelah tenggara yang memisahkan cekungan tersebut dengan cekungan Sunda, serta Pegunungan Dua Belas dan Pegunungan Tiga Puluh di sebelah baratlaut yang memisahkan Cekungan Sumatera Selatan dengan Cekungan Sumatera Tengah.
Pola perkembangan tektonik Cekungan Sumatera Selatan sangat dipengaruhi oleh sesar mendatar dekstral Sumatera yang terjadi akibat subduksi Lempeng Hindia terhadap Lempeng Mikro Sunda. Cekungan ini sendiri terbentuk oleh pola-pola tektonik mendatar konvergen selama orogenesa Kapur Akhir-Tersier Awal yang menghasilkan pull-apart basins (de Coster, 1974).

Daerah Jabung dan seluruh Sub-Cekungan Jambi merupakan target besar dalam eksplorasi sejak tahun 1990. Daerah ini merupakan bagian dari cekungan sedimentasi Tersier Sumatera Selatan yang merupakan salah satu fokus eksplorasi gas disamping aktivitas eksplorasi minyak bumi yang sudah dalam kategori sebagai lahan matang. Penemuan hidrokarbon hampir seluruhnya diperoleh dari perangkap struktural (konvensional). Pencarian prospek konvensional saat ini menjadi semakin sulit, terutama prospek-prospek berskala besar. Bertindak sebagai batuan reservoir utama adalah batupasir Formasi Talang Akar, batupasir Formasi Gumai, batupasir Formasi Air Benakat, obyek pra-Formasi talang Akar, dan batuan dasar yang saat ini merupakan obyek baru untuk eksplorasi gas. Batuan metasedimen pra-Talang Akar disetarakan dengan Formasi Lahat sedangkan batuan dasar umunya berupa reservoir rekah, batuan beku, dan metamorfik. Secara konvensional pemahaman batuan induk di Sub-Cekungan Jambi berasal dari serpih/lempung Formasi Talang Akar. Mekanisme pemerangkapan dan migrasi dikontrol oleh aktivitas tektonik yang menghasilkan perlipatan, patahan, dan konfigurasi batuan dasar terutama pada Plio-Peistosen.

stratigrafi-cekungan-sumatra-selatan-smallStratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan (De Coaster, 1974)

Stratigrafi Regional

Stratigrafi regional Sub Cekungan Jambi yang merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Selatan tersusun oleh

  1. Basement Pre-Tersier
  2. Formasi Lahat
  3. Formasi Talang Akar
  4. Formasi Baturaja
  5. Formasi Gumai
  6. Formasi Air Benakat
  7. Formasi Muara Enim
  8. Formasi Kasai dan
  9. Endapan Alluvial

Batuan Pre-Tersier

Tidak ada informasi tentang Batuan dasar Pre-tersier yang menjadi alas seluruh endapan tersier di Lapangan Kenali Asam. Kajian pada lapangan lain di sekitar lapangan ini menunjukkan kehadiran batuan dasar sebagai batuan metamorf derajat rendah seperti sabak, filit, dan kuarsit dengan pirit dan kuarsa di dalam rekahan. Batuan dasar ini diperkirakan berumur Kapur.

Endapan Rift berumur Oligosen

LAF (Lahat Formation)

Formasi Lahat terdiri dari endapan vulkanik, kipas aluvial, dataran banjir, dan lakustrin. Penyebarannya dikontrol oleh graben, yang dibagian atasnya ditutupi secara tidak selaras oleh endapan berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah. Memiliki ketebalan > 2000 m terutama dibagian tengah graben, dan pada bagian tinggian endapan ini tidak dijumpai. Formasi Lahat ekivalen dengan Formasi Lemat di area Pendopo (bekas wilayah STANVAC). Pembagian secara lebih terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Di bagian bawah berupa endapan vulkanik Kikin yang terdiri dari aliran lava andesit dan piroklastik (dapat mencapai ketebalan 800 m).
  • Di bagian tengah diendapkan anggota klastik kasar Lemat yang terdiri dari endapan kipas aluvial dan dataran aluvial (ketebalan beberapa ratus meter).
  • Di bagian atas diendapkan anggota Serpih Benakat yang berselingan dengan lapisan batubara (ketebalan 400 – 600 m).

Endapan berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah

TAF (Talang Akar Formation)

Formasi Talang Akar (TAF) diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Lahat (LAF) dengan ketebalan > 1000 m pada bagian terdalam dan seringkali tidak muncul pada daerah tinggian. Di bagian bawah berupa endapan progradasi yaitu endapan aluvial dan dataran delta dan di bagian atas berupa endapan transgresif yaitu endapan tebal batupasir dengan sedikit sisipan serpih dan lapisan batubara. Formasi ini mulai diendapkan pada akhir Oligosen (N2/N3)

Anggota Transisi (Transitional Member)

Anggota Transisi berubah secara berangsur ke arah atas menjadi Formasi Baturaja (BRF) yang didominasi oleh endapan batugamping. Pada umumnya memperlihatkan kontak selaras, namun pada bagian pinggir cekungan memperlihatkan kontak tidak selaras dengan batuan dasar tanpa adanya endapan Formasi Talang Akar (TAF). Hal ini menunjukkan bahwa proses transgresif berlangsung secara menerus setelah diendapkannya Formasi Talang Akar (TAF).

BRF (Baturaja Formation)

Batugamping ini berkembang dari Sub Cekungan Palembang Selatan ke arah utara ke Sub Cekungan Jambi. Pada bagian terdalam dari Sub Cekungan Jambi dan Palembang Tengah, batugamping Formasi Baturaja (BRF) digantikan oleh endapan marine berupa serpih gampingan yang seringkali tidak bisa dipisahkan dengan Formasi Gumai (GUF) berupa endapan serpih. Ke arah timur batugamping memperlihatkan perselingan dengan batulumpur karbonatan dan batupasir. Batugamping ini berupa karbonat platform dan secara lokal di bagian atasnya berupa reef build-up, memiliki ketebalan 60–100 m namun kadang-kadang dapat mencapai 200 m apabila berupa reef build-up. Formasi Baturaja diendapkan pada N5 sampai dengan pertengahan N6.

GUF (Gumai Formation)

Formasi ini menyebar dari arah timurlaut dan timur sampai ke Paparan Sunda, dan hadir sebagai endapan marine dari suatu laut terbuka. Formasi Gumai didominasi oleh endapan serpih terutama di Cekungan Sumatera Selatan dan beberapa lapisan tipis batugamping (stringer) di daerah Jambi, lapisan vulkanik, serta setempat sisipan batulanau dan batupasir halus, memiliki ketebalan berkisar dari 450–750 m, pada bagian tengah Sub Cekungan Jambi ketebalannya dapat mencapai 1.735 m, sedangkan di Sub Cekungan Palembang Selatan ketebalannya dapat mencapai 2.100 m.

ABF (Air Benakat Formation)

Formasi ini diendapkan secara selaras diatas Formasi Gumai (GUF), terdiri dari endapan batupasir, perselingan dengan serpih dan batugamping (setempat), kadang-kadang dijumpai lapisan batubara, diendapkan pada lingkungan marine terutama di daerah tidal-to-wave influence deltaic. Endapan klastik ini membaji ke arah tenggara yaitu ke arah Sub Cekungan Palembang Tengah dan Palembang Selatan. Endapan yang berpotensi sebagai reservoir terutama pada fasies distal. Formasi Air Benakat memiliki ketebalan berkisar antara 850 – 950 m dan pada bagian utara memiliki ketebalan 1400 – 1500 m.

Siklus Pengendapan akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir

MEF (Muara Enim Formation)

Siklus pengendapan transgresif – regresif diawali dari Formasi Air Benakat (ABF) yang berubah secara perlahan menjadi Formasi Muara Enim (MEF) yang terdiri dari perselingan serpih karbonatan, batulanau, batupasir, dicirikan oleh melimpahnya lignit (satu lapisan lignit dapat mencapai ketebalan 30 m), dan sisipan tufan seringkali dijumpai secara lokal.

Endapan Termuda (Pliosen-Pleistosen)

Kasai Formation

Formasi Kasai diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Muara Enim (MEF) terutama di bagian tengah cekungan, hadir sebagai perselingan endapan vulkanik klastik dengan serpih bentonit serta sisipan lignit.

Aluvial dan Vulkanik Kuarter

Pada bagian atas Formasi Kasai diendapkan endapan aluvial dan vulkanik Kuarter dengan kontak tidak selaras.

Saat ini cukup dipahami bahwa untuk mendapatkan peluang eksplorasi berskala besar adalah dengan cara mengoptimalkan pencarian pada obyek pra dan pasca Formasi Talang Akar dan batuan dasar. Dengan adanya pergeseran paradigma eksplorasi baru dari aspek obyektif maupun skala cadangan yang diharapkan, maka banyak aspek geologi, geofisika, dan geokimia yang perlu dikaji secara lebih dalam, seperti potensi dapur hidrokarbon, genetika reservoir rekah, pola dan waktu migrasi dan sebagainya. Pemahaman yang lebih baik dari aspek tersebut akan memperkecil resiko eskplorasi yang pada akhirnya akan berdampak positif pada penghematan biaya eksplorasi.

Dengan latar belakang permasalahan eksplorasi tersebut, timbul gagasan pemikiran untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam pada aspek geokimia, terutama aspek-aspek yang terkait dengan pembentukan hidrokarbon di daerah Jabung, Sub-Cekungan Jambi. Robinson (1987) mengklasifikasikan batuan induk produktif di Indonesia kedalam tiga bagian yaitu lakustrin, fluvio-deltaik, dan marin. Batuan induk fulvio-deltaik atau terestrial yang diidentifikasi dari Cekungan Sumatera Utara berasal dari serpih dan batubara Formasi Talang Akar. Hal ini membuat kecenderungan potensi batuan induk terbentuk hanya dari sistem delta Formasi Talang Akar sejalan dengan conventional wisdom yang berlaku untuk sistem Sumatera Selatan. Memperhatikan kondisi batuan yang cukup matang sangat dimungkinkan adanya kehadiran batuan induk lain seperti Formasi Gumai.

Tektonik Regonal

Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan belakang busur vulkanik (back-arc basin) yang dibentuk oleh tiga fase tektonik utama, yaitu:

  1. Fase ekstensional selama Paleosen Akhir sampai Miosen Awal, membentuk graben mengarah ke Utara yang diisi endapan Eosen sampai Miosen Awal
  2. Sesar normal dari Miosen Awal sampai Pliosen Awal
  3. Fase kompresional yang melibatkan batuan dasar, inversi cekungan, dan pembalikan sesar normal pada Pliosen yang membentuk antiklin, yang merupakan perangkap utama di daerah ini (Bishop et. al., 2001).

unlock-jbptitbpp-gdl-muhammadpa-22622-3-2009ta-2Peta Lokasi dan Pola Struktur Cekungan Sumatera Selatan (Bhishop, 2001)

Sub Cekungan Jambi di Cekungan Sumatera Selatan adalah rangkaian half-graben berumur Paleogen yang berarah umum timurlaut – baratdaya, diantaranya adalah Tembesi high, Berembang depression, Sengeti-Setiti high, Tempino-Kenali Asam depression, Ketaling high, East Ketaling depression, Merang high, dan Merang depression. Sub Cekungan Jambi memiliki dua pola struktur yang berbeda yaitu pola struktur berarah timurlaut–baratdaya sebagai pengontrol pembentukan graben dan pengendapan Formasi Talang Akar dan pola struktur berarah baratlaut – tenggara yang berkaitan dengan tektonik kompresi dan menghasilkan sesar – sesar naik dan antiklin. Tampak lapangan Kenali Asam merupakan bagian daei Tempino-Kenali Asam Deep

Sejarah Cekungan Sumatera Selatan dapat dibagi menjadi tiga megasekuen tektonik yaitu:

  1. Syn-rift Megasequence (c.40 – c. 29 Ma)

Kerak kontinen di daerah Sumatera Selatan terkena event ekstensi besar pada Eosen-Oligosen Awal akibat subduksi di sepanjang palung Sumatera. Ekstensi ini menghasilkan pembukaan beberapa halfgraben yang geometri dan orientasinya dipengaruhi oleh heterogenitas basement. Kemudian, terjadi ekstensi yang berorientasi Barat-Timur menghasilkan horst dan graben yang berarah Utara Selatan. Sumatera Selatan telah berotasi sebesar 150 sejak Miosen menurut Hall (1995) yang menghasilkan orientasi graben menjadi berarah Utara-Baratlaut dan Selatan-Tenggara.

  1. Post-rift Megasequence (c.29 – c.5 Ma)

Endapan post-rift di Sub Cekungan Palembang mencapai ketebalan 13.000 kaki, hal ini disebabkan oleh subsidence yang tinggi dan muka laut relatif yang juga tinggi menyebabkan transgresi berkepanjangan.

  1. Syn-orogenic/Inversion Megasequence (c. 5 Ma – sekarang)

      Event orogen yang menyebar luas, orogenesa Barisan, muncul di sepanjang Sumatera Selatan. Lipatan transpressional yang berorientasi memanjang pada arah Baratlaut-Tenggara terbentuk sepanjang cekungan dan memotong tubuh syn-rift di bawahnya. Kebanyakan perangkap struktural di bagian tengah cekungan ini dimulai pada megasekuen ini.

3Skematik Tektonostratigrafi Cekungan Sumatera Selatan

Masalah Penelitian
Walaupun telah banyak penelitian yang telah dilakukan khususnya mengenai potensi batuan induk dan sistem hidrokarbon, akan tetapi masih perlu dilakukannya studi geokimia secara konklusif untuk mendapakan gambaran potensi hidrokarbon yang dikaitkan dengan sistem hidrokarbon secara detail untuk menjawab keberadaan prospek dan lead.
Masalah pada penelitian ini adalah mengetahui distribusi active pod dan organofasies dari suatu sub-cekungan guna mengetahui prospek yang ada.

Ruang Lingkup dan Sasaran Penelitian
Ruang lingkup penelitian dibatasi pada aspek geokimia dan aspek terkait yang merupakan integrasi dari data geologi dan geofisika yang dimungkinkan dengan fokus pemecahan masalah.
Sasaran penelitian adalah :

  • Karakterisasi minyak dan pengelompokannya serta menentukan distribusi tipe minyak dalam cekungan
  • Identifikasi formasi batuan yang dapat berfungsi sebagai batuan induk
  • Korelasi minyak terhadap minyak, dan minyak terhadap batuan induk
  • Pemodelan cekungan, sejarah pemendaman (burial history) dan tingkat kematangan
  • Memetakan pola migrasi dan kemungkinan dapur hidrokarbon yang berbeda

Hipotesa Kerja
Didalam melakukan penelitian ini digunakan beberapa hipotesa kerja yang akan dicoba untuk dipecahkan dalam studi geokimia ini. Hipotesa kerja tersebut adalah :

  • Diduga adanya perbedaan karakteristik minyak yang mempunyai famili yang hampir sama dengan menggunakan parameter karakter organofasies
  • Diduga adanya hubungan antara waktu pembentukan perangkap dengan waktu hidrokarbon terbentuk yang dapat menjelaskan masalah mekanisme pengisian dan pemerangkapan hidrokarbon dari batuan induk ke perangkap

Asumsi-asumsi dalam Penelitian
Beberapa asumsi yang digunakan dalam studi ini antara lain adalah :

  • Data yang tersedia, terutama data geokimia hasil analisis laboratorium seperti TOC, pirolisis Rock-Eval, data kromatografi gas, GC-MS, dan isotop diasumsikan benar
  • Sumur yang dianalisis tidak terpotong oleh patahan, bila terpotong patahan maka harus dikoreksi sehingga memiliki data stratigrafi yang lengkap
  • Pada daerah dalaman yang tidak tertembus oleh sumur pemboran maka akan digunakan sumur bayangan (pseudowell) dengan susunan stratigrafi berdasarkan penampang seismik
  • Kompaksi merupakan faktor yang sangat penting mengontrol porositas selama pembebanan, yang pada akhirnya akan memberikan pengaruh pada waktu kematangan, pembentukan dan ekspulsi. Perhitungan kompaksi mengikuti persamaan Sclater & Christie (S&C), Falvey & Middleton (F&M), dan Baldwin & Butler (B&B).

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Pembuktian
Metode penalaran yang akan digunakan adalah metode deduksi yaitu karakteristik dan pengelompokkan minyak yang didasarkan pada prinsip-prinsip, rumus-rumus, hukum ataupun rujukan yang diasumsikan benar terhadap atribut sifat fisik, biomarker, dan distribusi isotop. Disamping metode deduksi yang menjadi landasan utama penelitian, metode generalisasi statistik dan metode induksi akumulatif akan digunakan sebagai metode dalam tahap integrasi dan interpretasi. Metode induksi akumulatif digunakan untuk memperlebar ruang penafisran hingga pada skala sub-cekungan. Dengan menggunakan metode generalisasi statistik ini kebenaran hipotesis yang berlaku seperti organofasies, distribusi biomarker, dan karakteristik isotop diharapkan akan lebih baik tingkat probabilitasnya. Dalam analisis penafisran dan sintesis akan digunakan metode hipotetiko deduksi untuk melihat kemungkinan distribusi dapur dan mekanisme migrasi hidrokarbon yang berpotensi. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi didasarkan atas adanya famili hidrokarbon yang dijumpai di daerah Jabung, Sub-Cekungan Jambi.

Pemodelan yang akan dilakukan pada studi ini adalah pemodelan deterministik yaitu sistem diekspresikan dalam persamaan matematis, termasuk didalamnya variabel, parameter, dan konstanta, dengan asumsi bahwa tidak ada komponen random selama tidak ada elemen yang berubah dan batas kondisi awal diasumsikan benar.
Desain penelitian untuk pemodelan yaitu dengan pemodelan 1 dimensi. Dalam pemodelan 1 dimensi akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak yaitu BasinMod 1D.

Metode Pemerolehan Data

Data utama yang akan dipergunakan dalam penelitian ini antara lain data minyak dan kondensat yang berasal dari sumur-sumur di daerah Jabung, data utama ini akan didapatkan dari perusahaan minyak. Sedangkan data pendukung yang akan dipergunakan dalam penelitian ini antara lain data well log (gamma ray, density, resistivity, neutron, sonic) dan peta hasl kompilasi data sumur dan seismik, data pendukung ini juga akan didapatkan dari perusahaan minyak.

Metode Pemrosesan dan Analisis Data
Data minyak bumi akan diuji berdasarkan ketersediaan n-alkana termasuk isoprenoidnya, data sterana, data triterpana serta isotop karbon. Data biomarker yang digunakan dalam studi ini dibatasi pada ion massa yang populer saja seperti sterana (m/z 217) dan triterpana (m/z 191). Berdasarkan data-data tersebut maka selanjutnya dapat dianalisis penentuan material asal, lingkungan pengendapan, dan sejarah termal senyawa tersebut.
Masukan data berupa data stratigrafi seperti top formasi (kedalaman) atau ketebalan dengan umur kronostratigrafinya, data litologi untuk perhitungan kompaksi dan konduktivitas termal, ketidakselarasan dan atau hiatus, data temperatur berupa data temperatur permukaan saat ini, gradien geotermal dan atau aliran bahang akan diproses di dalam perangkat lunak BasinMod 1D. Berdasarkan data-data tersebut maka selanjutnya akan menghasilkan diagram sejarah pemendaman (burial history) sehingga dapat diprediksi kematangan termal dan pembentukan hidrokarbon.

Sumbangan Terhadap Ilmu Pengetahuan
Hasil dari studi tentang karakterisasi minyak dan batuan induk ini diharapkan akan memberikan pandangan baru atau pendekatan baru dalam mengintergasikan suatu pemikiran yang lebih berskala cekungan. Pemahaman yang baik dan benar dari sistem hidrokarbon suatu kawasan akan membantu didalam menentukan strategi eksplorasi, pengembangan kawasan dimasa depan dan penentuan peringkat/rekomendasi prospek siap bor.

DAFTAR PUSTAKA

De Coster, G.L.(1974), The geology of the Central and South Sumatera Basins, Proceedings Indonesian Petroleum Association, 3rd Annual Convention, 77-110
Demaison, G.J., dan Moore, G.I. (1980), Anoxic environments and oil source bed genesis, AAPG Bulletin, 68, 31-72
Eubank, R.T., dan Makki, A.C. (1981), Structural geology of the Central Sumatera, Proceedings Indonesian Petroleum Association, 16th Annual Convention, 153-196
Huang, J.M., dan Meinschein, W.G. (1979), Sterols as ecological indicators, Geochimica et Cosmochimica Acta, 43, 739-745
Hunt, J.M. (1996), Petroleum geochemistry and geology, 2nd edition, W.H Freeman and Company, New York
Manaf, N.A., dan Mujahidin, N. (1993), Evaluasi migrasi hidrokarbon di Sub-Cekungan Jambi berdasar pemejalaran biomarker dan sejarah tektoniknya, Proceedings Indonesian Association of Geologist, 23rd Annual Convention, 736-758
Moldowan, J.M., Seifert, W.K., dan Gallegos, E.J. (1985), Relationship between petroleum and depositional environment of petroleum source rocks, AAPG Bulletin, 69, 1255-1268
Peters, K.E., dan Moldowan, J.M. (1993), The biomarker guide, Englewood Cliffs, New Jersey, Prentice-Hall, 363
Robinson, K.M. (1987), An overview of source rocks and oils in Indonesia, Proceedings Indonesian Petroleum Association, 16th Annual Convention, 97-122
Seifert, W.K. (1978) Steranes and terpanes in kerogen pyrolysis for corelation and source rocks, Geochimica et Cosmochimica Acta, 42, 473-484
Waples, D.W. (1985), Geochemistry in petroleum exploration, International Human Resources Development Co., Boston, 43-61
Zumberge, J.E. (1987), Prediction of source rock characteristics based on terpane biomarkers in crude oils: a multivariate statistical approach, Geochimica et Cosmochimica Acta, 51, 1625-1637

Advertisements

Entry filed under: GeoStudent. Tags: , , , , , , , .

Hello world! Pencemaran di Area Pertambangan Emas Tradisional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2011
M T W T F S S
    Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: