Indonesia dalam Ancaman Krisis Minyak

26 Sep 2014 at 9:31 am Leave a comment

Oleh: Mohammad Hisyam Adnan

Pada beberapa kali kesempatan baik di acara TV maupun forum para pakar energi, salah satunya adalah Geologist, ikut menyuarakan pendapat mereka tentang ancaman krisis energi. Suara mereka hingar bingar ditengah politisasi isu dan kepentingan yang menjadikannya sebagai persoalan yang nampak abstrak, tidak tahu ujung dan pangkalnya. Disini tanggung jawab seorang geologist tidak selalu berkutat dengan pekerjaan profesional mereka seperti mengamati data-data elektronik (seismik, log, grafik, diagram, dll) maupun konvesional (buku, data core, cutting, fosil, batuan, peta, dll), tetapi juga sebagai seorang ahli yang juga memiliki tanggung jawab sosial yaitu memberikan pencerahan dan pandangannya terhadap persoalan kebumian. Dengan begini semua orang berharap nantinya Geologist akan selalu membumi, sehingga akan semakin dirasakan kehadirannya di tengah masyarakat maupun pemerintah. Hal ini penting karena posisi mereka lebih paham realitas tentang seberapa besar cadangan energi kita yang sesungguhnya. Bagaimana statusnya? Terbukti? Terukur? Atau hanya sebagai sumber daya saja?. Secara sederhana saya dapat bilang bahwa mereka berbicara atas dasar fakta, mereka memberikan pandangan secara logis dan nyata dengan harapan kebijakan pemerintah nantinya tidak berakibat buruk terhadap cadangan energi Indonesia. Harapan final adalah Indonesia mampu keluar dari krisis energi.

Seperti yang dikatakan Pak Dhe “Rovicky” yang saya kutip dari diskusi di Milist IAGI pada Pada 24 Sep 2014 07:14, “Rovicky Dwi Putrohari” (rovicky@gmail.com) menulis: Tertulis di Koran Tempo kemarin: bahwa negeri ini tidak punya cadangan bbm mencukupi. Semua impor. Sependek yang aku tau, artinya energi negeri ini sangat kurang. Dari batubara masih sedikit; dari angin ombak dan mentari tidak memadai; apalagi dari nuklir. Hehe balik lagi saja dari kayu? Hutan sudah habis; sisa dari air; asal dijaga lingkungan penyimpan air; masih dapat dimanfaatkan. Energi; makanan; transportasi; bahan bangunan; semua impor. Waha tinggal ekspor teroris saja. Daripada ngerecokin dalam negri; atau buat tentara bayaran saja yaa? Dari pada konyol katanya selain saudara sefaham; mending dididik jadi mercenaries saja; jelas dapat uang; kata di pilem gajinya gede.
Salam. bdn

Benarkah demikian? Silahkan kita renungkan bersama…

Mantan ketua IAGI tersebut bicara secara terbuka dan kalau saya bilang adalah bagaimana pemerintah tidak serius menyikapi krisis energi Indonesia. Mungkin saja ini berkaitan juga dengan istilah “Mafia Migas” yang sedang diangkat oleh Presiden baru kita Pak Joko Widodo untuk coba menyelamatkan Industri ini. Saya berharap pemikiran ahli geologi tersebut dapat membuka pikiran kita semuanya. Kembali ke topik pembahasan, sebelum saya masuk lebih dalam saya coba menjelaskan kepada anda, “Apa yang dimaksud dengan energi konvensional?” pertanyaan ini InsyaAllah dapat memilah pemahaman anda mengenai sumber energi yang sedang kita bicarakan. Kita sama-sama tahu bahwa untuk sekedar hidup manusia butuh energi/tenaga sebagai motor penggerak. Secara lebih luas untuk mendukung interaksi sosial dan ekonomi maka kita butuh energi. Pada era moderen ini, energi sangat dibutuhkan untuk menyokong peradaban manusia, hingga akhirnya kita sadar bahwa kita lupa bahwa energi yang kita pakai kian hari kian mahal dan langka. Barangkali kita sama-sama ingat pada saat kita mengenyam tingkat pendidikan dasar kita diajari tentang sumber-sumber energi, Ya benar sumber energi terbarukan dan tak terbarukan. Energi yang kita gunakan untuk menghidupkan kendaraan, peralatan listrik, memasak, hampir semuanya menggunakan tipe energi tak terbarukan, juga dikenal dengan bahan bakar fosil atau seperti minyak, gas, dan batubara. BBM termasuk energi konvensional dan sifatnya tak terbarukan. Istilah energi konvensional tidak saja untuk minyak tetapi juga gas. Untuk menemukan cadangan baru dibutuhkan pekerjaan eksplorasi yang merupakan bagian dari industri hulu migas. Kegiatan riset dan pemboran harus terus dilakukan untuk menambah cadangan energi untuk masa depan, sehingga ketika nantinya harga minyak atau gas kian mahal kita mampu bertahan dengan cadangan energi kita. Konsep eksplorasi sejauh ini tidak terlalu banyak mengalami perubahan dimana minyak dan/atau gas dapat hadir jika aspek-aspek di dalam sebuah sistem petroleum hadir dalam suatu cekungan seperti batuan sumber, panas, migrasi, batuan reservoir, dan cebakan minyak.

Kenapa dengan Indonesia?
Indonesia, dengan segala kekayaan sumber daya energinya, tetap dalam ancaman krisis energi. Tidak terlepas dari fakta mengenai perbandingan total konsumsi dan produksi energi tetapi juga dengan melihat trend saat ini. Konsumsi energi kita cenderung naik sedangkan trend produksi dari tahun ke tahun terus turun (bayangkan grafik yang terbentuk dari kedua pola ini). Total konsumsi energi kita naik sebesar 50% dalam kurun waktu 10 tahun antara tahun 2000 sampai 2010. Sedangkan produksi minyak mengalami degradasi atau penurunan dari puncak produksi sebelumnya sebesar 1.6 Juta barrels per hari dan hanya 861 barrels perhari pada tahun 2012. Begitu juga dengan cadangan yang berstatus terbukti (proven), Indonesia dikategorikan tercepat di Asia, yaitu lebih dari 1,9 Milyar Barrels telah habis sejak tahun 1992. Fakta dan angka yang sangat fantastis saya rasa, produksi dan cadangan terus mengalami penurunan secara drastis di sisi lain konsumsi energi terus meningkat hampir tiap tahunnya, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Inilah yang membuat setuju kalau kita sedang dilanda krisis energi. Dalam jangka panjang jika trend ini tidak berubah maka akan berdampak buruk terhadap kemandirian di bidang energi. Logikanya begini, karena energi yang kita produksi tidak cukup untuk memenuhi permintaan maka salah satu cara yang paling cepat adalah impor. Semakin besar jumlah yang kita impor maka pada akhirnya kita akan bergantung dengan negara lain, dimana kita tidaklah bisa disebut sebagai negara yang mandiri, khususnya di bidang energi.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya energinya, namun dari cadangan terbukti yang ditemukan, Indonesia merupakan negara penghasil gas (gas phrone), bukan penghasil minyak (oil phrone). Namun kita barangkali terlalu naif dengan apa yang kita punya. Gas sebagian kita ekspor barangkali dengan harga yang murah (Ingat kasus kontrak gas tangguh?), Kenapa tidak coba untuk menggant pembangkit-pembangkit minyak dengan gas, percuma jika hanya sebatas wacana, entah apa yang membuatnya berbelit… Sekarang ini Indonesia terlalu bergantung dengan minyak, dari sepeda motor butut di desa hingga pembangkit listrik berskala besar menggunakan minyak. Pemerintah menjual BBM bersubsidi dengan harga yang murah sehingga terlalu memanjakan penggunanya (Coba perhatikan anak jaman sekarang ke warung dekat rumah saja pakai motor?, atau anak sekolahan yang belum juga memiliki izin, membahayakan dirinya dengan memakai kendaraan pribadi untuk bersekolah?).

Di sisi lain kita menyimpan sumber daya (resources) energi panas bumi (geothermal) yang terbesar di dunia. Tapi sekali lagi status sumberdaya tidak mungkin kita manfaatkan tanpa memberantas habis masalah yang membuat pekerjaan eksplorasi tak berjalan Eksplorasi mutlak dibutuhkan untuk merubah status sumber daya menjadi cadangan entah itu terkira, terukur dan semoga saja terbukti atau dengan kata lain sudah termanfaatkan. Pekerjaan eksplorasi memakan waktu yang panjang bisa lebih dari lima tahun untuk bisa diputuskan dilaksanakan tahap eksploitasi. Sehingga logikanya jika kita melakukan eksplorasi sekarang maka baru akan dimanfaatkan beberapa tahun ke depan, yang artinya juga menjamin tersedianya energi untuk kehidupan anak cucu kita kelak. Pemerintah juga membuat kebijakan/aturan energi mix nasional. Memang benar-benar sebatas aturan dan wacana tanpa tindakan nyata. Di atas kertas target selalu dinaikkan tapi ketika tutup buku kita melihat angkanya selalu jauh dari target. Bagaimana dengan biofuel, penyedian energi terbarukan ini juga terhambat pada masalah riset yang tak berjalan, riset juga dibutuhkan untuk memastikan efektifitas dan efisiensi mulai dari penggunaan teknologi pengolahan hingga demo penerapannya dilapangan.  Persiapan yang matang dan detail adalah kunci mengahadapi masyarakat yang praktis seperti sekarang ini, terkait dengan harga yang kompetitif serta distribusi dan ketersediaan ketika masuk ke masyarakat.  Tidak hanya energi panas bumi dan biofuel tetapi kita juga punya banyak sekali resouces lainnya yang dapat mendukung kebijakan energi mix nasional seperti CBM dan gas shale yang sedang booming di Amerika, hingga menjadi salah satu fakor anjlognya harga minyak konvensional menjadi 50 US Dollar per barrel,,

Pada tahun 2011, konsumsi pemakaian minyak sebesar 30 persen dari total konsumsi energi secara keseluruhan. Kondisi ini diperparah dengan buruknya industri hilir minyak, konsumsi yang terus naik , menurunnya produksi minyak menyebabkan Indonesia yang sebelumnya merupakan anggota negara-negara pengekspor minyak (OPEC) menjadi salah satu negara pengimpor minyak (Ada gak ya organisasinya…). Logikanya karena kita adalah negara pengimpor minyak maka krisis energi di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dunia, Minyak adalah komoditi global, harga persatuannya menggunakan mata uang internasional Dollar Amerika. Krisis geopolitik di Timur Tengah sebagai kawasan utama penyuplai minyak dunia tak terkecuali Indonesia mengakibatkan melonjaknya harga minyak dan mencapai rekor tertinggi hingga 140 Dollar per Barrel (Wikipedia. Org). Kondisi yang serba tidak menguntungkan ini bagi berbagai negara pengimpor minyak seperti Indonesia merupakan pukulan yang sangat telak, apalagi dengan kebijakan subsidinya.

Dalam jangka panjang untuk mengatasi hal ini para ahli geologi bersama-sama dengan jajaran kompany-nya terus berupaya menemukan cadangan baru yang ekonomis. Saya beranggapan kalau mereka seperti sedang di buru waktu! mengejar target lifting minyak. Kemudian dari kacamata ahli apa sih yang seharusnya diupayakan oleh para pemangku kebijakan dan para ahli itu sendiri? Selanjutnya adalah apa yang dapat kita lakukan sebagai seorang penduduk yang sejatinya adalah pemakai energi? Ayo bersama-sama kita bantu negeri ini untuk keluar dari krisis energi.

1. Bagi para ahli dan pemangku kebijakan dan para Ahli
Mereka adalah poros negeri ini memiliki andil besar dalam perubahan status Indonesia saat ini. Beberapa waktu yang lalu saya membaca naskah yang dibawakan oleh Karen Agustiawan, Presiden dan CEO Pertamina di acara bertajuk “At the Center For Strategic And International Studies (CSIS)” di Washington DC beberapa tahun yang lalu. Dari situ saya coba menerangkan kembali beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap minyak. Menurutnya terdapat tiga langkah penting yang dapat diambil untuk merubah paradigma kebijakan energi kita yaitu:
– Mengurangi pemakaian minyak dan memaksimalkan penggunaan gas baik itu natural gas maupun gas unkonvensional (CBM dan Shale Gas)
– Mengakselerasikan penggunaan energi tak terbarukan dengan energi terbarukan (energy mix) seperti energi geothermal, angin , air, nuklir, dan sebagainya.
– Mengurangi subsidi energi untuk menekan konsumsi minyak dan mengalihkannya untuk upaya pengembangan jangka panjang seperti perbaikan infrasruktur, pengembangan energi aternatif, dsb.
Mengingat banyak sekali diskusi baik di Berita TV maupun forum seperti Milist IAGI maka saya coba menambahan adalah yang ke 4 yaitu:
– Melakukan perbaikan birokrasi dan perijinan investasi energi hulu hingga hilir (eksplorasi hingga pengembangan ilmu dan teknologi dan penyaluran/distribusi) baik energi konvensional maupun energi nonkonvensional serta energi alternatif

Untuk poin No. 4 baik sekali jika kita membaca dan merenungkan tulisan Pak Aris Setiawan yang juga penggiat IAGI, tulisan ini merupakan status Facebook Pak Aris namun selanjutnya di angkat dalam diskusi di milist IAGI bertema “Memberdayakan Migas Indonesia” sebagai berikut:

Indonesia dulu dikenal sebagai jawara di bidang sumberdaya minyak dan gas bumi. Bahkan ketika di akhir abad ke19 sudah dilakukan eksplorasi migas yang menemukan lapangan Telaga Said. Begitu pula dengan temuan-temuan lapangan migas di Kalimantan Timur. Memang yang menemukan dan memproduksi lapangan-lapangan tersebut adalah institusi swasta dari Belanda.

Migas memang dianggap sebagai aset strategis. Maka begitulah ketika Jepang menyerbu Indonesia di tahun 1942, yang pertama dikuasai adalah aset-aset lapangan minyak seperti di daerah Tarakan yang merupakan entry point pasukan Jepang. Dengan kekayaan migas di bawah permukaan, Indonesia juga berhasil mendatangkan investasi perusahaan-perusahaan multinasional utamanya di tahun 1970an sehingga menggairahkan dunia eksplorasi dan produksi migas. Indonesia mengalami kejayaan karena melimpahnya asupan petrodolar, dan bisa bergaya memberikan subsidi BBM untuk rakyatnya. Faktanya sekarang sudah berubah, kita bukan lagi pengekspor minyak, kita importir minyak dengan gap antara produksi dan kebutuhan nasional yang sangat tinggi, hampir setengahnya. Pertanyaannya  “Apakah subsidi ini pantas untuk terus dilakukan?” Saya berharap tim Pemberantas Mafia Migas yang di bentuk Pak Jokowi benar-benar melakukan pekerjaannya.

Belakangan ini, industri migas kelihatannya tidak lagi dianggap sebagai industri strategis. Bahkan cenderung diperlakukan seperti sapi perah yang tidak pernah diurus tetapi harus mengeluarkan susu (penghasilan) ke pemerintah pusat maupun daerah dan  berbagai komponen masyarakat lainnya. Hal ini tercermin dengan target lifting minyak sebagai penerimaan negara yang sekarang selalu dipatok pemerintah dan menjadi target yang harus dipenuhi oleh industri migas. Meski pun target lifting minyak dipatok tinggi, namun justru biayanya dibatasi dengan pembatasan cost recovery. Sebagai perumpamaan mungkin seperti bis antar kota Jakarta ke Surabaya namun cuma diberi jatah bensin lima puluh liter. Jika bensinnya kurang, bis rusak, mogok atau ada pungutan di jalan, maka semua itu ditanggung sopir. Belum lagi kebijakan perpajakan yang tidak membuat betah pekerjaan eksplorasi seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada setiap jengkal blok eksplorasi. Padahal Ditambah lagi terdapat ketidakpastian yang tinggi terhadap keberadaan cadangan migas itu sendiri. Dan juga lahan yang sebenarnya akan dipakai hanya beberapa hektar untuk lokasi tapak sumur dan pembangunan fasilitasnya.

Industri migas juga sekarang ini dianggap sama saja dengan industri lainnya, seperti tambang batubara atau pun industri perkebunan. Hal ini menimbulkan permasalahan tumpang tindih lahan antara ketiga industri tersebut. Dan biasanya karena industri migas relatif “manja”, mereka selalu kalah bersaing dalam kerasnya permasalahan tumpang tindih lahan. Padahal sejatinya industri migas tidak hanya sekadar penghasil lifting minyak untuk penerimaan negara saja. Yang kita en toch tidak tahu kemana saja uang itu mengalir. Namun ketersediaan migas harus disikapi secara strategis. Mengacu kepada Pasal 33 UUD 1945 adalah dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Jadi gas bumi sedapat mungkin dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik bagi masyarakat sekitar dan juga dapat sebagai bahan baku industri petrokimia. Sudah cukuplah Indonesia mengasup gas bumi ke Jepang dan Korea sejak tahun 1970an sehingga mereka bisa berkembang menjadi macan asia. Begitu juga minyak bumi sebisa mungkin diolah sendiri dan ditumbuhkembangkan industri pengolahan minyak sehingga tidak hanya bergantung pada pabrik pengolahan yang sudah tua dan tidak efisien lagi. Tidak, Saya tidak mengacu kepada lapangan-lapangan kecil dan tidak ekonomis saja yang digunakan untuk keperluan domestik. Tetapi justru lapangan-lapangan migas besar harus memberikan kontribusi dan komitmennya untuk dipergunakan bagi kesejahteraan rakyat banyak. Dengan demikian industri migas bisa benar-benar menjadi industri strategis yang dibutuhkan dan dicintai rakyat banyak. [End].

Benar sekali pak Aris, sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 sektor ini menguasai hajat hidup orang banyak sehingga sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, terutama rakyat yang kurang mampu sehingga generasi berikutnya tidak nyambung jadi kurang mampu, tapi mampu bersaing bahkan jadi orang penting di bidang apa saja yang baik-baiklah. Kita ada baiknya melihat kebijakan energi China dan Venezuela yang lebih mengutamakan kebijakannya untuk kepentingan nasional mereka, terlepas dari banyak negara yang tak menyukainya, namun kenyatannya negara-negara seperti itulah yang ternyata mampu keluar dari keterpurukan krisis energi yang ternyata juga diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang ikut berkembang. Dengan kata lain kebijakan energi mereka ternyata juga berhasil membawa sebagian besar rakyatnya untuk hidup sejahtera. Melihat model tersebut menurut saya seharusnya pemerintah juga mulai berani mengambil kebijakan energi walaupun tidak populer. Inilah waktunya untuk beralih atau setidaknya melihat potensi lain yang kita punya untuk dijadikan sebagai energi alternatif. Energi alternatif perlu dikembangkan sehingga sedikit demi sedikit nantinya kita tidak terlalu bergantung dengan minyak. Memang membutuhkan waktu, kerja keras, dan biaya yang tidak sedikit. Karena kalau tidak sekarang kapan lagi?. Dan.. Cara ini cukup efektif dan harus berjalan bersama-sama dengan pemerintah, para ahli, dan perusahaan-perusahaan untuk terus mengupayakan eksplorasi untuk menemukan dan menambah cadangan energi baru bagi Indonesia, disamping juga menyadarkan masyarakat untuk turut aktif dalam upaya penghematan ini. Dalam jangka panjang, maka akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap ketahanan energi Indonesia.

Barangkali kota termegah di bumi sekarang ini adalah Dubai, Qatar. Kota yang terkenal dengan Burj Khalifanya sebagai menara langit tertinggi di dunia ini terus membangun dan berinovasi. Apa yang bisa dicontoh dari mereka? Mereka saya kira sadar kalau negara mereka kaya karna Minyak (bahkan patroli polisi mereka pakai Lamborghini), di lain sisi mereka juga sadar minyak tidak akan seterusnya menghidupi mereka. Kebijakan pemerintah dan kesadaran warganya menunjukan i’tikad dan usaha yang sangat baik. Pembangunan jangka panjang yang mereka gagas adalah mengalihkan keuntungan industri migas untuk menumbuhkan sektor nonmigas sebagai kekuatan ekonomi dunia, mereka memperhatikan pembangunan sumber daya manusia dan sebisa mungkin menjadikan semuanya menjadi pengusaha.

Tapi harus kita ingat bahwa segala upaya ini tidak lain adalah karena pertimbangan ekonomi, trend acapkali berubah, sesuai dengan kacamata ekonomi, namun kita semua pasti punya prediksi tentang hal ini, terutama para ahli ekonomi. Jika situasi seperti sekarang ini terus bertahan dan berlanjut maka ada baiknya pemerintah dan para ahli bersama-sama melakukan perencanaan baik jangka panjang maupun jangka pendek. Berbagai cara untuk mengurangi ketergantungan kita adalah bersama-sama kita sadar, kita rubah pola pikir kita, berhubung belum dikembangkannya energi alternatif pengganti minyak, jalan satu-satunya bagi kita selaku pengguna, adalah efisiensi penggunaan energi minyak.

2. Bagi masyarakat pada umumnya
Pada umumnya masyarakat kita menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian keluar rumah. Kendaraan ini tentu butuh bahan bakar, banyak dari kita menggunakan Premium, tentu harganya lebih murah dibandingkan Pertamax atau bahan bakar beroktan tinggi lainnya. Ya karena premium telah disubsidi pemerintah melalu mekanisme talangan dengan menggunakan anggaran APBN. Kita harus merubah pola berpikir kita, betapa kita mampu untuk membeli bbm nonsubsidi tetapi kita memilih membeli yang bersubsidi, Barangkali itulah yang dianggap korupsi akut, Kenapa? Karena sudah jelas bbm bersubsdi adalah untuk rakyat tidak mampu, tetapi kita yang mampu bagaimana?. Selalu tercatat hampir setiap tahun besaran biaya subsidi BBM selalu naik bahakan membengkak di luar dugaan, sehingga diperlukan APBN Perubahan, hal ini menjadikan pemerintah terkatung-katung dalam pembagian perencanaan anggaran APBN, bahkan sampai cari-cari utang segala.

Selanjutnya bagaimana pengaruhnya di dalam masyarakat?, Isu subsidi bbm dan APBN, ternyata berdampak langsung dengan masyarakat, Informasi yang saya dapat dari peneliti CSIS, Raymon Atjie mengungkapkan bahwa penganggaran subsidi BBM berakibat pada pengurangan anggaran terhadap bidang yang lainnya, salahsatunya adalah anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan energi. Sehingga Jangan heran jika disekitar tempat kita ternyata banyak fasilitas umum yang rusak bahkan terbengkalai, seperti jalan, saluran irigasi, fasilitas-fasilitas publik, sekolah, dan perkantoran yang tak kunjung diperbaiki, atau mungkin juga gaji pegawai negeri (Yang saya lihat sendiri pegawai pemerintah bukan PNS yang bergelut langsung dalam penarikan pajak di desa hingga dusun juga yang mengumpulkan data-data dasar kependudukan dan catatan sipil yang nanti jadi database nasional emmm gak di gaji selama 4 bulan. Inilah sesumbar korupsi barangkali, yang bisa saja karena kebutuhan perut lapar jadi ikutan korupsi), serta di sektor energi, banyak pengembangan energi-energi alternatif tidak berjalan dengan baik. IMF Country Report tahun 2012 menyatakan bahwa negara kita hanya menyisihkan 3 % dari GDP kita ke sektor publik seperti infrastruktur, termasuk juga yang berkaitan dengan infrastruktur untuk pengembangan energi lainnya. Nilai ini merupakan yang terendah diantara negara-negara di kawaasan Asia Tenggara (Coba kita bandingkan berapa besar anggaran yang digunakan untuk subsidi BBM terhadap GDP kita). Hal ini tentu akan menghambat jalannya distribusi barang dan jasa yang sebenarnya merupakan kesan yang buruk untuk iklim investasi di Indonesia. Kita harus berpikir ke depan secara lebih luas dengan melihat secara nyata bahwa apaun subsidi BBM untuk saat ini sangatlah tidak tepat. Pemerintah harus mengalihkannya ke sektor yang lain.

Saya dan tentu kawan-kawan semua memberikan apresiasi kepada pemerintah dengan kebijakan “Konversi BBM nya beberapa tahun yang lalu” – Ingatkan dengan acara bagi-bagi kompor gas, selang, dan tabung gas 3 Kg gratisnya??? sehingga tidak ada lagi subsidi minyak tanah atau rusaknya hutan karna kayu jadi bahan bakar.

Ketika saya di tanya tentang apa yang bisa saya lakukan untuk membantu pemerintah dalam menekan konsumsi BBM,  saya akan coba menguraikan beberapa langkah tersebut yaitu gengan melakukan efisiensi penggunaan BBM. Hal ini sama saja dengan sedapat mungkin tidak memakai kendaraan pribadi, terlebih mobil untuk bepergian keluar rumah, caranya?
– Bersepeda, selain sehat kita akan hemat BBM pula, sembari ikutan Kang Ridwan Kamil bersepeda ria.
– Mulai akrab dengan angkutan umum/tranportasi publik, memang sesek2an pada jam sibuk, tak jelas juga trayek, arah, dan tujuannya, tidak nyaman kadang kurang aman juga.
– Hemat pemakaian listrik. Ingat ya jargon “17 – 22”,
– Sepertinya harus mulai lihat mbah google atau dari kalian bisa memberikan pendapatnya di kolom komentar, nanti saya coba usahakan untuk update tulisan ini.
Begitulah ancaman krisis energi yang membuat kita harus sadar kenapa
– Kita mulai antri BBM
– Listrik sering padam
– Jalan rusak tak kunjung diperbaiki
– Para petani, nelayan, kok begitu-begitu saja
– Di kolom berita selalu ada topik ini krisis, demo, tumpang tindih perijinan, dan korupsi
Dsb.

Bersama-sama mari kita sadarkan diri sendiri, keluarga terdekat, teman kita, dan barangkali para birokrat-birokrat di luar sana. “Selalu ada harapan maka dari itu lakukan perubahan!”
Terahir saya mohn maaf karena memberikan dugaan dan setengah-setengah dalam menyampaikan informasi, saya hanya tidak ingin secara instan memberikan informasi begitu saja, kenapa? Ya karena dengan begini harapannya para pembaca yang budiman, ikut terpanggil untuk mencari sumber-sumber artikel lainnya yang berkaitan dengan pertanyaan saya dan juga dugaan-dugaan yang kabur atau bahkan isi artikel secara keseluruhan, sehingga anda akan memiliki pengetahuan yang lebih kritis dan objektif dalam memandang isu ini. Dari saya ya terimakasih telah membaca. Salam.

Sumber :
http://www.eastasiaforum.org/2014/03/12/policy-changes-needed-to-unlock-indonesias-energy-options/

Indonesia And Energy Security speech by karen agustiawan, President and CEO pertamina at the center for strategic and international studies (CSIS) in Washington D.C.

Milis IAGI: https://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg44025.html

Advertisements

Entry filed under: GeoStudent, Isu. Tags: , , , , , , .

Students’ impressions from geological fieldwork in Svalbard Siap Siaga Menghadapi Gempa Bumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

September 2014
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: