Mengenal Bencana Gempa Bumi, Indonesia Berpotensikah?

28 Sep 2014 at 8:42 pm Leave a comment

160416123808-04-japan-earth-quake-0416-super-169Apakah Gempabumi itu ?

Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

Mengapa Gempabumi Terjadi ?

Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).

Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan lembek seperti magma, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).

4953-004-c647c3b2

Ilustrasi lempeng tektonik

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.

Bagaimana dengan Indonesia?, Berpotensikah?

Bencana gempabumi di Indonesia hampir terjadi setiap tahun, tentu kita pasti ingat dengan gempabumi Aceh tahun 2004, gempa Jogja, Gempa Nias, gempa Pangandaran, dsb. Melihat begitu banyaknya peristiwa gempa yang telah terjadi di Indonesia maka dapat disimpulkan bahwa Indonesia sangat berpotensi terjadi gempa. Untuk lebih memahami penyebab, kenapa hal ini terjadi, maka kita perlu memahami bagaimana kedudukan Indonesia terhadap Interaksi lempeng-lempeng tektonik di dunia.

Indonesia terletak di daerah dengan tingkat aktivitas gempabumi tinggi, hal tersebut sebagai akibat bertemunya tiga lempeng tektonik utama dunia yakni : Samudera India – Australia di sebelah selatan, Samudera Pasifik di sebelah Timur dan Eurasia, dimana sebagian besar wilayah Indonesia berada di dalamnya. Pergerakan relatif ketiga lempeng tektonik tersebut dan dua lempeng lainnya, yakni laut Philipina dan Carolina mengakibatkan terjadinya gempa-gempa bumi di daerah perbatasan pertemuan antar lempeng dan juga menimbulkan terjadinya sesar-sesar regional yang selanjutnya menjadi daerah pusat sumber gempa juga.

Akibat pergerakan relatif antar lempeng tektonik di Indonesia dan aktivitas sesar-sesar regional maupun lokal ribuan gempa terjadi setiap tahunnya, namun sebagian besar dari gempa-gempa tersebut hanya terdeteksi oleh alat yakni Seismograph, sedangkan pempa-gempa yang berkekuatan diatas 5,5 SR ataupun yang dirasakan rata-rata per tahun sekitar 70 – 100 kali, sedangkan gempa yang menimbulkan kerusakan antara 1 – 2 kali per tahun.

Sejak tahun 1991 sampai dengan 2009 tercatat telah terjadi 30 kali gempa merusak dan 14 kali tsunami merusak. Pada 12 Desember 1991 Tsunami Flores telah menelan korban 2000 jiwa lebih, diikuti Tsunami Jawa Timur 1994, Tsunami Biak 1996, Tsunami Sulawesi tahun 1998, Tsunami Maluku Utara 2000 dan Tsunami Raksasa Aceh Desember 2004, Nias 2005, Jawa Barat 2006 serta Bengkulu 2007. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan rata-rata hampir 1 tahun sekali tsunami menghantam pantai kepulauan Indonesia. Hasil penelitian Paleotsunami menunjukkan bahwa 600 tahun lalu terjadi tsunami besar yang melanda Aceh dan Thailand. Hal tersebut menunjukkan bahwa daerah Aceh rawan tsunami besar.

Belajar dari pengalaman kejadian gempabumi dan tsunami di Aceh, Pangandaran dan daerah lainnya yang telah mengakibatkan korban ratusan ribu jiwa serta kerugian harta benda yang tidak sedikit, maka sangat diperlukan upaya-upaya mitigasi baik ditingkat pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi resiko akibat bencana gempabumi dan tsunami.

Mengingat terdapat selang waktu antara terjadinya gempabumi dengan tsunami maka selang waktu tersebut dapat digunakan untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat sebagai salah satu upaya mitigasi bencana tsunami dengan membangun Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System / Ina-TEWS).

Karakteristik Gempabumi

  • Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat
  • Lokasi kejadian tertentu
  • Akibatnya dapat menimbulkan bencana turunan (longsor, amblesan tanah, tsunami, liquifaksi, kebakaran, dll)
  • Berpotensi untuk terjadi gempa susulan
  • Belum dapat diprediksi secara pasti mengenai kapan dan dimana akan terjadi Gempabumi
  • Gempabumi tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi melalui peningkatan kesadaran masayarakat dalam memahamai potensi dan penanggulangan bencana gempabumi

Faktor-faktor yang Mengakibatkan Kerusakan Akibat Gempabumi

  • Kekuatan gempabumi biasanya dalam satuan Richter atau MI
  • Kedalaman gempabumi dalam satuan kilometer kedalaman
  • Jarak hiposentrum gempabumi dalam satuan kilometer dari kota terdekat
  • Lama getaran gempabumi dalam satuan detik
  • Kondisi/tekstur tanah setempat seperti berpasir (meredam getaran gempa), keras/berbatu (retakan/runtuhan bangunan diatasnya, lembek seperti di daerah rawa dapat memiringkan dan merobohkan bangunan diatasnya.
  • Kondisi bangunan meliputi model bangunan (tahan gempa atau tidak), material bangunan (beton, kayu, bata, dll), dan umur bangunan

Apa yang sudah pemerintah lakukan?

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam melindungi warganya akan bencana gempabumi. Buktinya ada lembaga yang secara khusus memantau, melakukan riset, dan menginformasikan segala sesuatu mengenai potensi gempabumi dan bencana ikutannya, diantaranya adalah LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika).Hal yang tidak kalah penting artinya adalah pendidikan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bahaya tsunami sebagai salah satu komponen dari tiga komponen integral Ina TEWS.

Peringatan dini tsunami yang diterima oleh institusi perantara seperti Pemda serta institusi terkait lainnya harus sampai ke masyarakat kemudian masyarakat dapat menindak lanjuti warning tersebut dengan upaya evakuasi. Untuk itu diperlukan upaya pendidikan dan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami. Institusi yang terlibat dalam rangka pendidikan masyarakat di daerah rawan tsunami baik dari dalam negeri maupun internasional antara lain: Ristek, LIPI, BMKG, Universitas, PMI, Pemda, LSM, Unesco, GTZ dan lain-lain. Semua institusi tersebut telah berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan dan kesiapsiagaan masyarakat berupa sosialisasi, workshop, simulasi Tsunami, simulasi table top dan lain-lain yang bekerja sama dengan berbagai pihak terutama Pemda setempat.

Pada tahun 2011 BMKG bekerjasama dengan LIPI, BNPB dan TNI-AL mengadakan training of trainer (ToT) untuk kegiatan evakuasi mandiri nantinya. Kemudian hasil ToT ini diimplementasikan dalam kegiatan Evakuasi Mandiri Bagi Masyarakat Pantai Terhadap Bahaya Tsunami yang diselenggarakan di Buleleng, Bali 8 – 10 Desember 2011.

Diharapkan setelah dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut di atas, Pemda dan masyarakat mempunyai kesiapsiagaan dalam menghadapi Tsunami. Untuk mendukung keberhasilan dalam upaya pendidikan dan kesiapsiagaan masyarakat mengenai bahaya tsunami maka diharapkan Pemda dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam hal sebagai berikut: ikut mengamankan peralatan deteksi bencana yang ada di wilayahnya, menyiapkan peta resiko tsunami beserta skenario penyelamatan, menyiapkan tempat evakuasi beserta peta pencapaiannya, memasang rambu-rambu petunjuk / arah evakuasi, membangun pusat krisis / pusat komando, melakukan latihan-latihan evakuasi tsunami (tsunami-drill) secara berkala, membangun sirine, membangun atau menentukan gedung penyelamat (escape building/tsunami shelter), memasukkan pertimbangan kebencanaan dalam penyusunan tata-ruang dan memasukkan pendidikan kebencanaan dalam muatan lokal kurikulum sekolah.

Salah satu implementasi untuk menguji kesiapan Ina TEWS adalah dengan melakukan tsunami drill setiap tanggal 26 Desember. Tsunami drill pertama dilakukan di Padang tanggal 26 Desember 2005, di Bali 26 Desember 2006, di Banten 26 Desember 2007, di Bantul Yogyakarta pada tanggal 24 Desember 2008 dan pada tanggal 26 Desember 2008 dilakukan di Gorontalo dan Manado. Tsunami drill berjalan dengan baik dan mendapat sambutan positif dari Pemda serta masyarakat. Pada tanggal 14 September 2009 diadakan tsunami drill yang berskala regional. Dimana Indonesia berperan sebagai Regional Tsunami Watch Provider yang memberikan warning kepada negara-negara di kawasan Samudera Hindia.

Tahapan – tahapan peningkatan kewaspadan dan kesiapsiagaan masyarakat disusun oleh tim LIPI menjadi 8 tahap, meliputi:

1. Pelatihan para pejabat / petugas di lingkungan Pemerintah Daerah.
2. Pelatihan kepada wakil masyarakat
3. Penyiapan modul untuk pendidikan publik

4. Penyiapan peta dan jalur evakuasi
5. Penyiapan dan pemasangan rambu – rambu evakuasi tsunami
6. Simulasi sistem peringatan dini tsunami dan proses evakuasi (Tsunami Drill)
7. Sosialisasi publik melalui media elektronik dan cetak
8. Latihan – latihan untuk anak-anak sekolah.

Dalam waktu dekat, saya akan update tulisan ini sehingga nantinya akan semakin memperkaya wawasan anda khususnya.

Sumber:

http://www.bmkg.go.id

http://www.lipi.go.id

http://www.bnpb.go.id

Advertisements

Entry filed under: GeoHazard. Tags: , , , .

Siap Siaga Menghadapi Gempa Bumi Bumi Memasuki Era Anthropocene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

September 2014
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: