Siap Siaga Menghadapi Gempa Bumi

28 Sep 2014 at 8:07 pm Leave a comment

Oleh: Syam

Letak geografis indonesia berada pada jalur cincin api pasifik. Jalur tercatat sebagai jalur yang paling aktif di dunia, salah satu akibatnya maka daerah ini memiliki tingkat kegempaan yang tinggi. Berbagai peristiwa besar hingga tahun 2014 tercatat beberapa kali peristiwa gempa yang banyak menelan korban jiwa maupun kerugian harta. Peristiwa-peristiwa ini wajib dijadikan sebagai pelajaran yang berharga. Peristiwa terburuk yang masih kita ingat tentu saja gempa yang diikuti oleh tsunami di Aceh dan sebagian Sumatera Utara pada tahun 2004, menelan hampir 200.000 penduduk, gempa ini juga menjadikan kawasan ini tidak stabil sehingga terjadi gempa-gempa susulan dengan magnitude yang besar salah satunya adalah gempa Nias. Contoh lainnya adalah gempa dan tsunami Pangandaran, gempa Jogjakarta, dan gempa Padang.

Bencana ini bersifat tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Gempabumi dapat menimbulkan dampak korban jiwa, luka, maupun kerusakan infrastruktur yang sangat signifikan. Kita harus belajar dari kejadian gempabumi yang terjadi di Yogyakarta (2006) dan Padang (2009). Mengidentifikasi potensi bahaya dan perencanaan yang berstandar aman dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi korban luka maupun kerusakan infrastruktur. Peristiwa ini selalu saja menimbulkan banyak korban jiwa dan menimbulkan sejumlah kerugian yang tak ternilai harganya. Bencana tentu saja tidak dapat kita cegah, namun sebagai manusia kita dituntut untuk selalu siap setiap saat akan datangnya bencana gempa bumi dan ikutannya baik secara mental maupun secara material. Ketika satu orang saja diantara kita tahu bagaimana upaya pencegahan dan tindaan pasca gempa itu sama artinya dengan menyelamatkan nyawa orang lain. Melihat pentingnya upaya tersebut, berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk selalu siap siaga menghadapi bencana gempa bumi.

Apa yang dilakukan sebelum terjadi gempabumi?
Kita tidak dapat mengetahui kapan gempa akan terjadi sehingga persiapan menjadi sangat penting untuk menyelamatan jiwa, mengurangi korban luka, maupun kerusakan infrasturktur. Ada 6 langkah untuk persiapan.

a) Cek potensi bahaya di rumah

  • Lekatkan lemari secara aman pada dinding
  • Tempatkan barang besar dan berat ada bagian bawah lemari.
  • Letakkan barang pecah belah pada bagian yang lebih rendah dan di bagian tertututp
  • Gantungkan barang yang berat seperti pigura foto atau cermin, jauh dari tempat tidur, sofa, atau pun tempat di mana orang duduk
  • Pastikan lampu langit-langit terpasang dengan kuat
  • Perbaiki apabila terjadi kerusakan pada jaringan listrik atau gas.
  • Amankan pemanas air dengan terpasang dengan baik pada dinding.
  • Perbaiki keretakan pada langit-langit atau fondasi.
  • onsultasikan dengan ahli bangunan apabila membutuhkan informasi mengenai
    struktur bangunan yang kurang kuat.
  • Tempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar dalam lemari tertutup dan letakkan paling bawah.

b) Identifikasi tempat aman di dalam dan luar rumah

  • Di bawah perabot yang kuat, seperti meja dan kursi
  • Merapat pada dinding, seperti berdiri pada siku bangunan
  • Menjauh dari kaca atau cermin atau pun barang-barang berat yang berpotensi jatuh
  • Di luar rumah, jauhi bangunan, pohon, dan jaringan telepon atau listrik, atau bangunan yang mungkin runtuh

c) Bekali pengetahuan diri sendiri dan anggota keluarga

  • Memiliki daftar kontak yang dibutuhkan, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi, kabupaten, kota, TNI, Polisi, rumah sakit, PMI, atau pun dinas pemadam kebakaran.
  • Bekali anak-anak bagaimana dan kapan harus menghubungi pihak-pihak di atas, dan mencari stasiun radio untuk mencari informasi darurat
  • Bekali semua anggota keluarga bagaimana dan kapan harus mematikan gas, listrik, dan air.

d) Siapkan dukungan logistik darurat

  • Lampu senter dan baterai cadangan
  • Radio dengan baterai
  • Perlengkapan PPPK dan panduannya
  • Makanan siap saji dan minuman (perhatikan masa berlakunya)
  • Obat-obatan khusus disesuaikan dengan kebutuhan pemakai
  • Uang secukupnya
  • Sepatu khusus

e) Merencanakan mekanisme komunikasi darurat

  • Pada kasus apabila anggota keluarga terpisah pada saat bencana, rencanakan cara untuk mengumpulkan anggota keluarga setelah bencana.
  • Menanyakan kepada saudara atau teman yang berlokasi di luar area tempat tinggal kita untuk bersedia sebagai penghubung keluarga.

f) Bantu komunitas untuk siap siaga

  • Bekerja sama dengan media lokal untuk membuat kolom khusus terkait informasi respon darurat setelah bencana. Disebutkan juga pada kolom tersebut nomor telepon BPBD, instansi pemerintah terkait, rumah sakit, dan PMI.
  • Kenali bersama keluarga mengenai potensi bencana yang ada di sekitar rumah
  • Bekerja sama dengan BPBD, PMI, atau pihak terkait lainnya untuk menyiapkan laporan khusus bagi masyarakat dengan mobility impairment pada apa yang akan kita lakukan selama gempabumi
  • Melakukan simulasi evakuasi sederhana di rumah
  • Mencari informasi dari pihak terkait tentang pemutusan listrik dan air pada saat bencana
  • Bekerja sama dengan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan tentang building code, retrofitting program, ancaman bahaya, dan rencana yang disusun oleh keluarga pada saat keadaan darurat

Apa yang dilakukan pada saat bencana ?
Tetap berada di tempat yang menurut Anda aman selama terjadi gempa. Waspadai gempa susulan yang terkadang guncangannya lebih kuat. Perhatikan langkah Anda ke tempat aman lain dan tetap berada di sekitar tempat itu sampai guncangan berhenti dan Anda dapat keluar dengan aman.

a) Ketika di dalam ruangan

  • Merunduk hingga menyentuh lantai; cari perlindungan dibawah meja atau perabot lain yang kuat; dan tunggu hingga guncangan berhenti. Apabila tidak ada meja atau perabot untuk berlindung, lindungi kepala anda dengan lengan kemudian merayap menuju ruangan.
  • Jauhi gelas, jendela, atau apa pun yang mungkin menjatuhi Anda.
  • Tetap di tempat tidur apabila terjadi gempa, lindungi¬†kepala Anda dengan bantal. Apabila ada kemungkinan benda berat akan menimpa Anda, segera menuju ke sisi terdekat yang aman.
  • Tetap di dalam ruang hingga guncangan berhenti, dan keluarlah ketika sudah aman. Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang terluka karena mereka berusaha untuk menuju ke lokasi yang berbeda atau berusaha keluar bangunan.
  • Waspadai segala kemungkinan yang timbul akibat arus pendek.
  • JANGAN menggunakan lift.

b) Ketika di luar ruangan

  • Tetaplah di luar
  • Jauhi dari gedung, lampu jalan, atau jaringan berkabel.
  • Ketika di luar, tetaplah di luar hingga guncangan berhenti. Bahaya paling besar berada langsung di luar bangunan; pada pintu keluar, exterior sepanjang dinding luar.

c) Di dalam kendaran

  • Menepi dan berhenti segera. Tetap tinggal di dalam kendaraan. Hindari berhenti di dekat atau di bawah bangunan, pohon, jembatan, atau pun jaringan berkabel.
  • Lanjutkan berkendara setelah gempa berhenti. Hindari jalan, jembatan, atau halangan yang telah rusak akibat gempa.

d) Ketika terjebak di dalam reruntuhan

  • Jangan menyalakan api
  • Jangan bergerak atau apa pun yang menimbulkan debu
  • Tutupi mulut Anda dengan sapu tangan atau kain
  • Munculkan suara pada pipa atau dinding sehingga tim SAR dapat mencari posisi Anda. Gunakan peluit apabila tersedia. Berteriak adalah jalan terakhir yang dapat dilakukan, tapi hal ini dapat menyebabkan akan menghirup debu.

Apa yang dilakukan setelah terjadi bencana ?

  1. Siaga kemungkinan yang terjadi setelah gempa. Gelombang guncangan kedua biasanya kurang mematikan tetapi dapat lebih kuat untuk memberikan kerusakan tambahan hingga memperlemah struktur bangunan dan dapat terjadi pada satu jam pertama, beberapa hari, minggu, bahwa bulan setelah gempa.
  2. Dengarkan radio atau televisi yang bisa diakses. Perhatikan informasi terkini terkait respon darurat.
  3. Gunakan telpon untuk panggilan darurat
  4. Buka laci lemari secara hati-hati. Waspadai benda-benda yang dapat menjatuhi Anda.
  5. Jauhi area yang hancur. Jauhi area yang hancur kecuali memang kehadiran Anda dibutuhkan oleh pihak berwenang, seperti kepolisian, pemadam kebakaran, atau tim SAR. Kembalilah ke rumah apabila pihak berwenang mengatakan bahwa kondisi telah aman.
  6. Bantu korban luka atau yang terjebak. Ingat untuk selalu membantu tetangga atau siapapun yang membutuhkan pertolongan khusus seperti anak-anak, orang tua, atau orang cacat. Berikan pertolongan pertama secara tepat. Jangan pindahkan korban yang terluka serius untuk menghindari luka yang lebih parah. Carilah bantuan kepada tim medis yang lebih ahli.
  7. Bersihkan cairan yang berbahaya. Tinggalkan lokasi yang berbau cairan berbahaya seperti gas atau cairan kimia.
  8. Periksa beberapa peralatan.
    1. Periksa apabila terjadi kebocoran gas. Jika tercium bau gas, segera buka jendela dan segera keluar bangunan.
    2. Periksa kerusakan listrik. Apabila ditemukan jaringan kabel yang rusak dan tercium bau
      panas listrik, segera matikan listrik.
    3. Periksa kerusakan tempat pembuangan kotoran dan saluran pipa.

Apabila terjadi kerusakan pada tempat pembuangan kotoran dan saluran pipa, hindari penggunaan toilet dan panggil tukang di bidangnya. Hubungi instansi yang berwenang untuk antispasi pencemaran air yang lebih luas.

http://www.bnpb.go.id

http://www.lipi.go.id

Advertisements

Entry filed under: GeoHazard. Tags: , .

Indonesia dalam Ancaman Krisis Minyak Mengenal Bencana Gempa Bumi, Indonesia Berpotensikah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

September 2014
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: