Band Indie, No Market We Play!

3 Dec 2014 at 5:57 am Leave a comment

By Syam

_indie2_1305174968Ijinkan saya jelasin sedikit tentang musisi indie. Kalau dari akar katanya Indie berasal dari kata independen yang artinya nggak bergantung sama sesuatu. Jika dikaitkan dengan jalur indie maka bisa diartikan sebagai cara bagi pemusik untuk berkarya sebebas-bebasnya. Kebebasan musisi indie tidak lepas dari posisi label rekaman. Kerjasama antara musisi indie dengan label rekaman minimal setara. Tetap pada dasarnya musisi lebih diberikan kebebasan dalam menentukan arah karya/musik mereka. Label hanya dijadikan sebagai sarana diskusi, rekaman, mixing lagu, produksi, atau sekedar tempat buat ngumpul.

Untuk masalah pendanaan buat rekaman, produksi, sampe pemasaran bisa patungan antara musisi indie sama label atau bahkan dari kantong sendiri. Label rekaman biasanya memang bukan major label tetapi label kecil atau lokal. Tapi bagi saya si biarpun kecil tapi kalau bisa memfasilitasi musisi hingga melahirkan musisi besar kenapa harus dipandang sebelah mata?. Bagi musisi indie khususnya di Indonesia label yang biasanya ngekomodir musisi indie diantaranya FFWD, Kolibri, Hema, Anoa, dsb.

Saya tekankan sekali lagi kalau dalam berkarya musisi indie membawa kemerdekaan bermusiknya sehingga sangat wajar jika aliran musiknya cenderung sangat beragam. Kebebasan bermusik inilah yang menjadikan band-band Indie ini unik di mata para penikmat musik dan memunculkan kelompok penggemar yang fanatik. Bagi kalian yang belum mengenal band-band Indie ini belum tentu kalian belum pernah mendengarkan karya band Indie. Fenomena band indie yang paling deket, dapat kalian temui dalam event atau festival musik lokal, parade di SMA atau kampus-kampus, di cafe, di radio, dan kadang pelakunya juga temen kita sendiri, Gak aneh bukan. Bisa jadi jalan menjadi pemusik Indie adalah ketika kalian masuk kamar mandi dan teriak-teriak dengan lagu ciptaan kalian, kalian coba aransemen dan publikasikan ke youtube atau Soundcloud. Ketika musikalitas kalian diterima oleh penikmat musik maka kalian sudah dikategorikan mengusung musik Indie (sesimpel itu.. gak neko2). Sekarang kalian udah tahu definisi musik Indie sekarang coba kita ulas sejarah perkembangan musik Indie.

Sejarah musik Indie

Mengenai sejarahnya, dari browsing internet saya menemukan kalau Indie itu berasal dari kata independen, dan independen itu adalah merdeka atau berdiri sendiri. Banyak yang beranggapan kalau scene Indie dilahirkan oleh komunitas Punk pada pertengahan 1970-an. Dimana pada saat itu, hampir semua band-band Punk ditolak mentah-mentah oleh kaum Major Label dengan alasan lagu yang bersifat NON-KOMERSIL. Sehingga mereka-pun berinisiatif membuat label sendiri dengan semangat D.I.Y. (Do It Yourself). Begitu-pun dengan produk-produk merchandise mereka kek baju sablon, kaset, CD dan lain sebagainya mereka kelola dengan manajemen ala mereka dan menjualnya dengan cara mereka, kreatif bukan!. Inilah yang menjadi cikal-bakal Distro (Distribution Store). Dan sampai hari ini masih banyak band-band Punk diluar negeri sana yang eksis dengan indie labelnya seperti NOFX, Propagandhi, Descendents(Fat Wreck Chords), Anti-Flag (A-F Records), dll. (Begitulah yang disebutkan oleh blogger yang bermarkas di urbanoir.blogspot.com).

Di indonesia sendiri, Scene musik indie mulai mendengung pada era tahun 70an, dimana band kek God Bless, AKA, Giant Step, Super Kid dari Bandung, Terncem, dan Bentoel sudah mendeklarasikan bahwa mereka adalah band underground seperti yang termuat dalam majalah Aktuil terbitan 1971. Di majalah itu diberitakan bahwa terdapat Underground Music Festival yang diadakan di Surabaya. Terdapat kompetisi antar band yang diwakili God Bless dari Jakarta, Giant Step dari Bandung, Terncem dari Solo, dan Bentoel dari Malang.

Sekitar 20 tahun kemudian yaitu pada tahun 1993, Pas band merilis album mereka yaitu For Trough The S.A.P. yang katanya si  terjual sampai 5000 kopi. Tidak sampai berjuta juta memang, namun yang terpenting adalah esensi dan eksistensi mereka diterima di kalangan penikmat musik Indie di Indonesia, hingga akhirnya boleh saya katakan kalau pemberontakan  mereka mampu menginspirasi band indie yang belum mau keluar kamar. Pas Band patut menjadi the most inspirational Indie Band yang mempopulerkan Indie secara signifikan hingga monotonisme musik mainstream saat itu dapat dikatakan goyah. Tapi album Pas band bukanlah album indie pertama di Indonesia. Dan menurut Deny Sakrie, Guruh Gipsy-lah yang mungkin merupakan album indie pertama di Indonesia yang dirilis pada tahun 1976, saya kurang kenal dengan band Indie yang satu ini.

Sejak release album pertamanya “For Trough The S.A.P.” dari Pas Band, scene Indie di Indonesia terlihat sangat bergairah bahkan menggairahkan dan sekali lagi memberontak main label kala itu. Di saat itu juga Iwan Fals dan Slank memperlihatkan eksistensinya, band-band Indie seperti Pure Saturday, Puppen, Waiting Room, dan yang lainnya mencoba untuk memperlihatkan eksistensinya lewat jalur Indie Label, Sangat menggeliat bukan… Aliran musik band Indie Band Indie kian bermunculan mengusung berbagai aliran musik mulai dari pop, Alternative, Folk, Rock, Underground, hingga Elektro dan… bisa di bilang sampe yang anehpun ada dan kadang juga ada yang sulit dikategoriin. Ketika diatas panggung “Live” mereka bermain dengan emosi, epic, dan drama ketika bermain musik (Lebayy S*ck#$%!!).

Event musik Band Indie

Beberapa event nasional yang saya tahu seperti Coup de Neuf, Bandung Berisik, Java Jazz Fest, Java Rock’n Land, We The Fest (WTF), Hello Fest, The Sounds Project, Jakarta Indie Music – Fest, Kickfest, RRREC Fest, Soundrenaline, dll. Event ini rutin diselenggarakan tiap tahunnya dan menampilkan band-band indie dari yang sudah familiar maupun yang masih dibilang baru. Biasanya tiap kali event ini diselenggarain jumlah penonton selalu membludak, tiket habis, taman bunga rusak (keinjek pas antri), dan yang pasti penonton gak kebagian tiket juga ada. Nahh…ketika acara dimulai band indie yang tampil dengan penonton akan semakin akrab deh.

Event rekruitant kaya LA Indiefest dan Dream Band dulu gencar-gencarnya memborbardir Scene Indie buat keluar dari jalur indie mereka. #Syndromebeingastars yah, kalau bagi saya si dikembalikan ke pribadi masing-masing. Hikmahnya ketika band Indie mulai menggandeng label, jelas kancah permusikan Indonesia bakal berubah, makin banyak alternatif dan aliran  musik yang ditawarkan ama label, namun pada akhirnya pasar yang menang, ketika aliran musik Indie tidak bersahabat dengan telinga mainstream, makaaa yang ada band rekruitant ini harus memilih dua opsi. Pertama menjual idealisme sesuai dengan keinginan label/pasar atau opsi kedua yaitu balik lagi ke komunitas Indie kaya Sheila on 7 (SO7). Bagi saya opsi nomer dua itulah yang bakal ngebangun mentalitas musisi indie.

Wadah pemusik Indie

Di era moderen ini internet menjadi hal yang krusial dalam penyebaran karya pemusik Indie. Media sosial seperti Blog, Twitter, facebook, Instagram, myspace, Tumblr, dsb menjadi kekuatan besar dalam sistem sosialisasi antara pemusik dan penggemarnya. Media streaming seperti Soundcloud dan Youtube menjadi wadah yang lumrah untuk menyebarluaskan karya mereka. Media berita elektronik seperti Hai, Reverbnation, Rockmagz, Gigsplay, dll. menangkap jeli untuk memuat kisah sukses pemusik Indie dan mengeksplorasi latarbelakang mereka. Beberapa album kompilasi juga sering di release. SEA Indie beberapa kali ngeluarin album debutan Day to Embrace, forever young – Lasting Fun dan tentu kalian ingat ketika album Indie Ten release menjadi tonggak awal band Padi, Caffeine, Cokelat, ama Wong tahun 1998 berkenalan dengan penikmat musik Indie, dan dengan jelinya label melihat peluang itu. Terserah apapun ujungnya yang jelas buat band-band baru merupakan kesempatan buat nunjukin identitas dan karyanya, So, bukan lagi batasan karya pemusik Indie cuman dinikmati tetangga kalian tapi pemusik Indie sekarang mau keluar kamar bahkan keluar batas teritorial.. so jangan salah ketika di Indonesia musik mereka terdengar aneh malah di mancanegara selalu ada tempat buat band-band Indie. dan so exciting bangettt ketika beberapa karya mereka dikagumi director lokal maupun manca,,, emm tunggu saja suatu saat ada yang sudah ngebooking kalian, Pemusik Indie!! untuk diundang di panggung beneran atau release demo kalian.

Pengalaman Pribadi

Definitely this is about how to find myself feel comfortable dan bagi saya pribadi mendengarkan musik Indie adalah reaksi saya atas kebosanan dengan musik-musik komersil yang lebih banyak gak enak di denger, beda dengan jaman dulu di era tahun 90 sampai 2000 an (horeeee angkatan 90). Melihat kenyataan ini, akhirnya saya coba cari alternative lain dengan mendengarkan karya band-band Indie. Setelah saya coba sendiri saya berani jamin gak akan bosan melihat dan mendengarkan karya band-band Indie ini, mengingat begitu bervariasinya gaya, aliran, makna dan bahasa dalam karya-karya mereka. Saya merasa cara mereka bermusik itu merdeka, tidak ada yang lebih indah dari merdeka bukan, bebas menyalurkan kreasi dan inovasi mereka, tanpa dipaksa melahirkan karya yang memang bukan lahir dari jati diri mereka, yang pada akhirnya tidak sedikit yang mengorbankan idealisme bermusik mereka, ketika sampai ke telinga kita malah kaya angin lalu dan bikin gak semangat (Emm…Sampai sebegitunya).

Rekomendasi

Kalo disebutin satu-satu serius! banyak banget! bagi saya si enak di kuping kaya cotton butt kali yaaa.., yang jelas juga saya gak terlalu fanatik dengan satu dua band, tapi saya mulai fanatik  dengan jalur “INDIE”, so apapun bandnya, siapapun musisinya yang memilih jalur Indie saya pasti suka, tak jarang saya rela sisih2 uang bulanan buat beli album mereka, beli tiket konser, atau sekedar beli marchandisenya. Yaaa seperti itulah..

Rekomendasi band Indie yang udah familiar kayak Pas Band, Pure Saturday, MOCCA, white Shoes n Couples Company, Alone at Last, The adams, The Milo, Sigmun, CUTS, Gogon n Blues shelter, morfem, Zeke n the popo, Sore, Rumahsakit, The S.I.G.I.T,  Endah n Rhesa, Efek Rumah Kaca, Float, Hightime Rebellion, Jirapah, Protocol Afro, Melismatis, The Joeys, Polyester Embassy, Angsa dan Serigala, Bangku Taman, Payung Teduh, Maliq n The Essentials, Billfold, Sarasvati, Koil, The Panas Dalam, Sind3ntosca, The trees and The wild, dsb.. banyak bangettt (#lupa), Mereka semua wajib nongol di playslist lepi, hp, iped, ipod, radio, ama gimbot (ehhh #%!^&ZZZ#$)

Nah kalo dipaksa buat milih dan rekomendasiin maka ini sifatnya subjektif, saya bakalan rekomendasiin band-band Indie yang terbilang baru dan langsung cocok. Saya coba rekomendasiin band-band indie berikut buat kalian yang penasaran ama aliran musiknya..

  • Bagi kalian yang suka punk saya rekomendasiin Rocket Rockers, Pee Wee gaskins, Rosemary, ama Billfold #manstabb
  • Bagi kalian yang suka screamo atau emo rekomendasi saya Killing Me Inside sama Melismatis deh
  • Bagi kalian yang suka musik blues sudahlah siapa yang gak kenal Gugun & The Blues Shelter atauu.. Play-Mates bisa jadi alternatif kalian..dan masih banyak band indie senior yang mengusung aliran musik ini..
  • Bagi kalian yang suka grunge rekomendasi saya band asal Bandung Heals ama C.U.T.S, juga ada band asal Surabaya Zorv, apa lagi ya.. kamu boleh kok nambahin…
  • Bagi kalian yang suka musik underground rekomendasi saya Deadsquad, The S.I.G.I.T., Navicula, ama marjinal.
  • Bagi kalian yang suka rock saya ngefans banget ama Monkey to Millionaire dan Plug & Play
  • Bagi kalian yang suka alternative rekomendasi saya Hightime Rebellion, Efek Rumah Kaca, Angsa dan Serigala
  • Bagi kalia yang suka pop rekomendasi saya The Joeys, L’alphalpha, ama rumahsakit Bagi GEOLOGIST saya highly recommended ama Morfem “Gadis suku Pedalaman” haha cocok, sok didengerin atuh..
  • Bagi kalian yang suka musik shogeaze, psychedelic, ambient, folk dan macemnya The trees and The Wild, Payung Teduh, Terasku, Pandai Besi, The Milo, Cotswolds, Bedchamber ama Radiodiffusion bisa bikin kalian kagum bener2 kagummm, adalagi loh band asal jakarta yang gileee tapi lupa namanya, yang jelas gitarisnya cewe..
  • Bagi kalian yang suka musik elektronik atau remix yah jelas Bottlesmoker dan Goodnight Electric, atau sedikit campuran mix aja ya ada homogenic, saya rasa ini pas bangett..
  • Bagi kalian yang suka ama gaya musik retro ala tahun 80-90 an mungkin white Shoes n Couples company dan The Upstairs bisa memuaskan kaliann..
  • Atau kalian kalau berani banget bisa explorasi musisi indie mancanegara, lebih gila dibanding yang gue kira si, kalo saya si lebih suka band asal inggris sama eropa timur yang masih banyak megang alat musik konvensional dengan sedikit efek musik elektonik.

Dan bagi kalian yang mau dengerin beberapa musik indie, udah saya bikinkan playlistnya di soundcloud,  yuu mariii (click this broo) >>>> bakal melulu update (doain ya broo)

Terakhir, band-band indie yang direkrut oleh Major Label seperti Pas Band (Aquarius), Suckerhead (Aquarius), Superman id Dead (Sony), Shaggy Dog (EMI), dan The Upstairs (Warner Music) merupakan suatu tanda bahwa indie berpotensi besar menjadi musik mainstream baru. Tetapi semua itu saya kembalikan kepada teman-teman pelaku Indie, dan saya menghimbau Jangan sampai karya-karya kita dipolitisir oleh kaum mainstream.(Ini juga kata blogger urbanoir.blogspot.com) salam Go Indie!!

Syam (@stressTOstrain)

Advertisements

Entry filed under: GeoDaily. Tags: , , .

JAKARTA, A STRANGE STORY EXPLORATION STARTS WITH FINDING OIL IN THE MIND

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

December 2014
M T W T F S S
« Nov   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: