Bencana Longsor dan Bagaimana Menyikapinya?

22 Dec 2014 at 1:19 am Leave a comment

Oleh: Syam

siaga-bencana-iconJum’at kemarin (12/12/2014) Indonesia kembali berduka. Hingga tulisan ini dibuat(12/21/2014) kejadian bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Banjarnegara telah merenggut 95 Jiwa sedangkan 23 lainnya masih dinyatakan hilang, belum lagi kerugian harta, benda, dan trauma psikis yang ditimbulkan akibat bencana ini. Menurut keterangan warga yang selamat, kejadian longsor diawali dengan suara gemuruh yang berlangsung begitu cepat. Saat itu kondisi menjelang waktu mahrib dan lampu sedang padam sehingga suasananya gelap. Budaya penduduk setempat pada kondisi demikian biasanya mereka berkumpul di rumah masing-masing. Saya berpikir bagaimana mereka bisa lari dari terjangan longsor dengan waktu sepersekian detik?, Untuk berlari ke arah pintu saja sepertinya tidaklah sempat? Jikapun iya mungkin bagi penduduk yang letak rumahnya agak jauh dari wilyah terdampak. Maka dari itulah hikmah di balik bencana ini dapat di ambil terutama bagi penduduk yang tinggal di wilayah yang berpotensi untuk terjadi longsor. Kita tidak sepatutnya menunggu bencana terjadi untuk kemudian mengambil tindakan, melainkan upaya mitigasi adalah tanggung jawab besar bagi setiap penduduk. Upaya mitigasi adalah tindakan terstruktur sebelum, saat dan setelah terjadi bencana. Bagaimana menjalankan upaya mitigasi khususnya bencana longsor? Topik ini yang akan menjadi bahasan saya dalam postingan kali ini.Sebelum melakukan mitigasi, kita harus memahami apa itu longsor, faktor penyebabnya, dan faktor pemicu longsor? Kita harus ingat bahwa setiap kondisi di lapangan itu berbeda terkait faktor penyebab dan pemicunya, serta tanda-tanda yang mungkin muncul sebelum terjadi longsor. Maka dari itulah kita wajib memahami daerah di sekitar kita, daerah tempat dimana kita, keluarga kita, teman kita, atau orang lain berada, terutama potensi bencana longsor yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Sehingga upaya mitigasi yang kita lakukan nantinya dapat berjalan secara efektif.

Apa itu longsor?

Longsor merupakan salah satu bukti bahwa bumi kita dinamis, terus menerus bergerak dan berproses untuk mencapai keseimbangannya. Hal inilah yang menjadi salah satu objek kajian geologi. Orang geologi mengkategorikan longsor sebagai salah satu tipe gerakan massa (mass wasting). Ada tiga faktor penting di dalam menentukan tipe-tipe gerakan massa, yaitu: kecepatan dan mekanisme pergerakannya serta kandungan air di dalam materi yang mengalami gerakan massa. Tipe-tipe gerakan massa tersebut adalah jatuhan (falls), aliran (flows), longsoran (slides), dan amblesan (subsidence).
Pada kenyataannya di daerah tropis seperti di Indonesia tipe gerakan tanah yang paling sering terjadi dan bersifat membahayakan adalah tipe longsoran (landslide), yaitu gerakan yang berperilaku seperti massa yang encer (fluida) sehingga materialnya dapat mengalir layaknya air/lumpur. Material tersebut biasanya merupakan campuran tanah, bongkahan batuan, dan pepohonan.

l3Berdasarkan bentuk bidang gelincirnya longsor di bagi menjadi dua yaitu longsoran rotasional dan longsoran translasional. Longsoran rotasional memiliki bidang gelincir yang cekung ke dalam, sehingga ketika terjadi longsor mekanismenya memiliki gerakan berputar (rotasional). Biasanya setelah terjadi longsor, pada bagian kepala akan terbentuk cekungan dan celah-celah yang memungkinkan air dapat meresap secara bebas hingga terakumulasi, mengakibatkan keadaan lereng pasca longsor masih tidak stabil. Di samping itu, di atas kepala longsoran meninggalkan tebing yang lebih curam dibanding sebelum longsor dan hal inilah yang menyebabkan longsoran berulang kembali di tempat yang sama (longsor susulan). Longsoran translasional terjadi pada bidang yang lemah seperti bidang sesar/patahan, bidang kekar, lapisan yang kaya akan lempung, atau terjadi pada batuan keras berada di atas batuan yang lunak. Pada tipe ini bidang longsoran membentuk bidang datar dan biasanya setelah terjadi longsoran masih ada bagian yang menggantung sehingga longsoran susulan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Istilah longsor kemudian di tambahi dengan kata “bencana” yang diartikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor nonalam seperti akibat ulah manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Sebagai contoh jika longsor terjadi di tengah pedalaman hutan Amazon dimana tidak ada manusia yang tinggal disana dan tidak mengancam kehidupannya maka tidak dianggap sebagai bencana. Contoh yang lain adalah jika dahulu ada jatuhan meteor dan menjadi penyebab kepunahan sebagian besar makhluk hidup termasuk dinosaurus, maka hal itu tidak juga dianggap sebagai bencana, karena saat itu manusia belum ada.

Mengapa longsor terjadi?

Jika kita melihat longsor sudah tentu bergerak kebawah menuruni lereng. Fenomena ini disebabkan karena adanya gaya gravitasi bumi. Gaya gravitasi selalu mengakibatkan gaya tarik material penyusun lereng menuju ke bawah, sebaliknya friksi memberikan gaya perlawanan terhadap kecenderungan pergerakan akibat gravitasi; jika friksi atau gaya perlawanan lebih kecil atau tidak ada sama sekali berarti lereng akan mudah sekali mengalami longsor. Hukum gravitasi ini mengingatkan kita pada Hukum Newton dan peristiwa longsor merupakan bukti bahwa hukum ini memang benar-benar bekerja di alam.
Longsor merupakan salah satu proses alam untuk mencapai titik keseimbangan. Dalam proses tersebut akan dipengaruhi oleh berbagai parameter yang dapat saling mendukung untuk terjadinya longsor. Fenomena ini tidak terlepas dari faktor pengontrol dan faktor pemicu longsor. Faktor pengontrol merupakan keadaan alami yang melekat pada suatu tempat tertentu, sedangkan faktor pemicu merupakan faktor yang dapat mempercepat kejadian longsor. Apa saja parameter-parameter dalam faktor tersebut? Kondisi seperti apa yang dapat menyebabkan longsor? Dan bagaimana hubungan antar parameter tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan saya uraikan sebagai berikut.

Faktor pengontrol longsor

Faktor penyebab terjadinya tanah longsor ini dikontrol oleh parameter geologi, iklim, dan tata guna lahan suatu daerah. Faktor geologi merupakan penyumbang terbesar sedangkan tata guna lahan menyumbang seberapa besar kerugian yang akan di timbulkan dan apakah ketika terjadi longsor akan berstatus bencana atau tidak, terahir faktor iklim akan berpengaruh pada intensitas hujan dan pelapukan yang bekerja di suatu daerah. Selanjutnya dalam memperhitungkan seberapa besar potensi bahaya longsor akan memperhitungkan faktor-faktor tersebut dengan cara melakukan klasifikasi dan membaginya berdasarkan tingkatan-tingkatan potensi baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang didasarkan pada beberapa asumsi awal, seperti kombinasi tertentu dari durasi dan kuantitas curah hujan, hasil evaluasi dari seringnya tingkat kejadian tanah longsor disuatu daerah, dan kesamaan keadaan antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Lebih detailnya, berikut saya uraikan mengenai faktor-faktor yang mengontrol tanah longsor.
Kemiringan lereng mempunyai berpengaruh besar terhadap kejadian tanah longsor. Semakin miring lereng suatu tempat maka daerah tersebut semakin berpotensi terhadap terjadinya tanah longsor. Daerah yang aman terhadap longsor pada kemiringan tidak lebih dari 15 derajat. Tetapi perhatikan juga potensi bencana lain pada daerah rendah seperti banjir, tsunami, limpasan banjir, banjir bandang, banjir lahar, atau erosi dan abrasi pantai.
Jenis dan kondisi batuan (lithologi). Jenis batuan akan mempengaruhi tingkat resistensi batuan terhadap pelapukan. Semakin tinggi tingkat resistensi batuan maka potensi longsor akan semakin kecil. Di lain sisi batuan yang resisten biasanya akan membentuk morfologi lereng yang lebih curam hingga tegak atau bahkan menggantung, Pada kondisi ini jenis bahaya yang dikhawatirkan bukan longsor melainkan jatuhan batuan (rock fall). Dan seresisten apapun jenis batuan yang tersingkap ke permukaan, pada akhirnya semua batuan akan lapuk, sehingga semakin besar intensitas pelapukan maka akan semakin besar probabilitas untuk terjadi longsor. Kondisi batuan yang memiliki bidang diskontinuitas seperti kekar dan batuan yang memiliki bidang lapisan juga akan memperbesar potensi longsor. Bidang ini dapat berperan sebagai bidang gelincir. Batuan yang pecah-pecah berdasarkan kajian geologi juga dapat merupakan indikasi adanya patahan aktif. Zona patahan merupakan bidang diskontinuitas besar yang sangat potensial sebagai pusat gempa (Contoh: patahan San Andreas, US) atau zona dengan tingkat getaran yang tinggi ketika terjadi gempa bumi (Contoh: Patahan Opak, Yogyakarta), seperti yang kita tahu bahwa getaran merupakan salah satu faktor pemicu longsor yang akan saya bahas kemudian.
Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah untuk meloloskan air melalui pori- pori dalam keadaan jenuh. Air yang masuk dalam tanah dalam jumlah yang proporsional akan meningkatkan daya ikat tanah (kohesifitas), terutama pada tanah pasiran. Untuk membuktikan hal ini kita bisa melakukannya dengan menggegam pasir pantai dan membandingkannya dengan pasir yang ada di gurun. Sedangkan jika jumlah air yang masuk ke dalam tanah berlebihan sebagai akibat dari curah hujan yang tinggi ditambah dengan faktor drainase yang buruk akan mengakibatkan butiran menjadi loose dan menambah beban sehingga lereng menjadi sangat tidak stabil. Dalam hal ini kita dapat membayangkan sebuah mobil yang susah di kendalikan pada jalan yang basah dikarenakan gaya gesek antara ban mobil dengan aspal lebih rendah dibandingkan pada kondisi jalan yang kering.
Pelapukan dan tekstur tanah. Pelapukan adalah proses penghancuran bantuan menjadi bahan rombakan (debris) dan tanah (VanZuidam, 1979). Mudah tidaknya batuan terganggu oleh kekuatan dari luar ditunjukkan oleh tingkat pelapukannya. Kondisi iklim tropis seperti di Indonesia menyebabkan intensitas hujan yang tinggi, yang kita tahu air merupakan agen pelapukan. Selain itu di iklim tropis kombinasi antara intensitas pencahayaan matahari dan air yang melimpah menyebabkan pembentukan vegetasi yang memperbesar tingkat pelapukan di suatu daerah. Akibatnya tanah hasil pelapukan akan semakin tebal dan tebal. Pada tingkatan pelapukan yang semakin lanjut ketebalan tanah dapat sangat tebal, lebih dari 5 meter, pada ketebalan ini akar pohon sebagian besar tidak lagi terikat ke batuan dasar sehingga vegetasi malah berperan sebagai beban dan akan semakin memperbesar tingkat kerentanan pada suatu lereng. Sedangkan tekstur tanah merupakan perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu massa, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung (clay), lanau (silt) dan pasir (sand). Semakin halus tekstur semakin luas permukaan butir tanah, maka semakin banyak kemampuan menyerap air, sehingga semakin besar peranannya terhadap kejadian tanah longsor.
Penggunaan lahan mempunyai pengaruh besar terhadap siklus hidrogeologi atau kondisi air tanah, Pada kondisi alami seperti hutanpun dapat terjadi longsor, tetapi banyak kasus terjadi pada lereng tanpa vegetasi penutup berupa pepohonan. Hal ini memberikan kita pemahaman bahwa pohon dengan akar-akarnya berperan sebagai pengikat tanah dengan batuan dasar. Seperti yang sudah saya jelaskan, pada daerah yang tanahnya tebal peran vegetasi tidak lagi efektif untuk upaya pencegahan longsor. Pada kondisi ini upaya relokasi hingga mitigasi secara fisik harus segera dilakukan. Tata guna lahan yang berhubungan langsung dengan aktifitas manusia dalam mningkatkan potensi longsor seperti:

  • Menebang pohon di daerah perbukitan
  • Membangun rumah atau bangunan lain pada atau di atas lereng dan/atau tepat di bawah lereng.
  • Membuat ladang pada daerah perbukitan yang curam dengan sistem drainase yang buruk
  • Memotong lereng tanpa memperhatikan faktor keamanan (FK) untuk berbagai keperluan seperti pembuatan jalan dan perluasan lahan.
  • Membuat kolam-kolam penampungan air di daerah perbukitan termasuk sumur air, dsb.

Faktor pemicu longsor

Infiltrasi air yang berlebihan. Mengapa bencana longsor lebih sering terjadi pada musim penghujan?, hal ini disebabkan karena pada musim penghujan jumlah air yang masuk ke dalam tanah akan meningkatkan ruang antar pori dalam tanah. Semakin tinggi nilai curah hujannya, maka wilayah tersebut merupakan wilayah yang mempunyai potensi tinggi terjadi bencana tanah longsor. Mudahnya air berperan seperti pelumas antara bahan rombakan dengan bidang gelincirnya.
Getaran dan aktifitas manusia. Getaran-getaran dapat bersifat alamiah (misalnya gempa bumi dan letusan gunung api) ataupun non alamiah (misalnya ledakan atau getaran lalu lintas). Sebagai contoh sebagai akibat dari aktiftas manusia adalah kegagalan lereng buatan pada proses penambangan akibat dilalui oleh alat berat. Sedangkan gempa dan volkanisme merupakan getaran yang berasal dari dalam bumi maka efeknya akan lebih hebat dalam memicu longsor. Getaran gempa bumi dari aktifitas tektonik maupun volkanisme dapat merubah orientasi butiran di dalam tanah maupun bahan rombakan, seketika itu misalnya sungai, kolam penampungan, atau sumur di bagian lereng bisa dengan mudah menyusup masuk ke dalam retakan-retakan yang terbentuk di dalam tanah hingga dapat menyebabkan longsor. Aktivitas manusia seperti penggalian atau pemotongan pada lereng dan pembebanan berlebihan merupakan pemicu yang bersifat non alamiah. Meskipun suatu lahan atau kawasan berdasarkan kondisi alamnya rentan (berpotensi) untuk bergerak atau longsor, potensi terjadi gerakan tanah ini dapat diminimalkan dengan beberapa langkah berikut.

  • Identifikasi zona yang rentan bergerak
  • Identifikasi faktor kunci penyebab gerakan tanah
  • Menerapkan rekayasa untuk :
    • meminimalkan pemicu atau pengaruh pemicu
    • memperkuat lereng

Bagaimana hubungan antara faktor pengontrol longsor dan pemicunya?

Hubungan antara faktor pengontrol dan pemicu longsor ibarat seorang penderita penyakit jantung yang dapat mengalami serangan jantung kapan saja ketika dipicu oleh perilaku atau keadaan penderitanya seperti memakan makanan berkolesterol tinggi secara berlebihan atau saat melakukan olahraga berat. Berdasarkan analogi tersebut maka faktor pengontrol merupakan suatu keadaan kritis pada suatu lereng untuk dapat longsor kapan saja ketika terdapat faktor yang memicunya.

Pentingnya Mitigasi Bencana Longsor

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa tingkat pembangunan berbanding lurus dengan semakin besarnya bencana alam yang ditimbulkan. Hal ini karena minimnya tingkat kesadaran atau keterbatasan manusia dalam melihat potensi bahaya yang ada disekelilingnya. Hal inilah yang mendasari untuk dilakukan kajian dan investigasi (hazard assessment) terhadap bahaya longsor sebagai rekomendasi tata guna lahan di setiap daerah di Indonesia, bahkan di dunia sebagai salah satu upaya pencegahan. Pada kenyatannya di Indonesia sendiri masih banyak pembangunan yang tidak memperhatikan kaidah tata guna lahan. Barangkali ini adalah sebagai titik awal untuk kemudian pada suatu hari terjadi bencana dan investigasi kembali dilakukan. Pertanyannya adalah kapan kita akan belajar dari pengalaman? Apakah kita menghendaki kejadian terus menerus berulang?

yang saya kutip dari halaman tribunnews.com bahwa dalam sesi wawancara dengan  Kepala Pusat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa “Dalam kurun waktu 2005 sampai 2014 total terdapat 2.278 peristiwa longsor. Total ada 1.815 orang tewas dan hilang akibat bencana-bencana longsor‎ dalam waktu 10 tahun terakhir, Bahkan diungkapkan Sutopo, berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, dalam 10 tahun itu, tren bencana longsor cenderung meningkat. Di tahun 2005 tercatat ada 50 kejadian tanah longsor, 2006 ada 73 kejadian, 2007 sekitar 104 kejadian dan 2008 ada 112 kejadian, lalu meningkat lagi di tahun berikutnya, yakni pada tahun 2009 ada 238 kejadian, 2010 ada 400 kejadian. “Pada 2011 jadi 329 kejadian, 2012 ada 291 kejadian, 2013 ada 296 kejadian, dan 2014 naik lagi ada 385 kejadian. Dalam 10 tahun itu tren bencana longsor cenderung meningkat,” kata Sutopo. Selain mengakibatkan 1.815 tewas dan hilang, ribuan peristiwa tanah longsor dalam 10 tahun terakhir juga berdampak pada 79.339 orang mengungsi, 7.679 unit rumah rusak berat, 1.186 unit rumah rusak sedang, dan 8.140 unit rumah rusak ringan. Kepala Pusat Data dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, “bencana tanah longsor menjadi bencana yang paling mematikan sepanjang 2014. Sepanjang tahun ini, tanah longsor telah membunuh 338 orang”.
Menurut keterangan Sutopo Purwo menjelaskan kalau 80% bencana tanah longsor terjadi karena kesalahan manusia. Masalah ini berkaitan erat dengan tata guna lahan di suatu daerah. Tata guna lahan merupakan persoalan yang menarik dan tidak habis-habisnya untuk selalu di ulas ketika terjadi bencana longsor. Menurut penelitian Tim Universita Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini menyebutkan bahwa 60% penduduk Indonesia berada dalam ancaman bencana longsor. Angka yang sangat fantastis dan mengharuskan kita semua untuk berpikir lebih jauh mengenai mitigasi bencana yang efektif untuk kondisi ini. Berdasarkan keterangan lain dikatakan 40,9 juta jiwa atau tepatnya 17,2 persen dari penduduk di seluruh wilayah Indonesia, ternyata berdiri di area yang rawan longsor. baik di area rawan longsor level sedang maupun tinggi, kata Sutopo Purwo Nugroho menandaskan di kantornya, Jakarta. Terlepas dari itu mungkin kita berpikir untuk melakukan relokasi. Pada kenyataannya hal ini sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini cukup beralasan karena budaya masyarakat Indonesia melihat tempat tinggal sebagai suatu ikatan emosional yang sangat sulit untuk dipisahkan, walaupun mereka tahu bahwa daerahnya sudah jelas-jelas berpotensi tinggi untuk terjadi longsor. Selain itu juga lebih banyak masyarakat yang kurang menanamkan nilai kemandirian untuk secara sukarela dan atas biaya sendiri melakukan relokasi. Pemerintah hanya berperan sebagai penyedia lahan relokasi namun sulit untuk seluruhnya dibiayai oleh pemerintah dimana angka 60% atau 17,2 % merupakan jumlah yang sangat besar, jikapun memang dipilah hanya untuk daerah dengan tingkat kerawanan bencana longsor tinggipun jumlahnya masih tidak sedikit. Maka dari itu kembali lagi mitigasi apa yang sebenarnya efektif untuk diterapakan di Indonesia? Hingga saat inipun pihak-pihak terkait masih sulit untuk menjawab persoalan ini, namun tetap yang paling penting adalah kesadaran dan tindakan aktif untuk selalu melakukan mitigasi terutama sebelum bencana longsor terjadi.

Mitigasi bencana longsor

Dalam melakukan mitigasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu sebelum, saat, dan sesudah terjadi bencana longsor

Apa yang dilakukan sebelum terjadi tanah longsor
1. Sebelum membeli atau mendirikan bangunan pastikan bahwa lokasinya tidak memiliki potensi gerakan tanah menengah sampai tinggi dengan cara melihat peta kerentanan gerakan tanah yang dapat dilihat dan diunduh di halaman pemerintah seperti Badan Geologi, BNPB, dan Pemerintah daerah. Dan jauh lebih baik juga memperhitungkan kemungkinan bencana lain seperti banjir, letusan gung api, gempa, dan tsunami.
2. Membuat bangunan ramah lingkungan yang disesuaikan dengan potensi bencana di tempat bangunan didirikan, selain itu juga tidak membuat sumur atau tempat penampungan air di puncak bukit ataupun pada bagian lereng,
3. Lakukan upaya penguatan lereng dengan mengatur sistem drainase dengan bahan kedap air, pembuatan sengkedan, betonisasi, dan upaya lain dengan memperhitungkan faktor keselamatan.
4. Waspada terhadap curah hujan yang tinggi, Jika dirasa perlu bisa dipertimbangkan untuk mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman.
5. Persiapkan dukungan logistik
o Makanan siap saji dan minuman
o Lampu senter dan baterai cadangan
o Uang tunai secukupnya
o Obat-obatan khusus sesuai pemakai
6. Simak informasi dari berbagai media informasi dan komunikasi mengenai informasi hujan dan kemungkinan tanah longsor.
7. Apabila pihak berwenang menginstruksikan untuk evakuasi, segera lakukan hal tersebut.
8. Amati dan laporkan kondisi lingkungan sekitar seperti adanya retakan tanah atau amblesan yang terbentuk di lereng, kolam air atau sumur yang debitnya menyusut secara tiba-tiba, sumur yang tiba-tiba kotor/tidak jernih, sungai atau mata air yang berhulu di bagian lereng menjadi kotor, dan munculnya mata air secara tiba-tiba pada bagian bawah lereng selanjutnya segera melakukan tindak lanjut untuk memastikan penyebab dan upaya penaggulangan. Selalu berfikir mengenai kemungkinan terburuk adalah perlu namun tidak berlebihan.
9. Meminta pihak terkait atau yang mampu secara teknis untuk melakukan sosialisasi mitigasi bencana dan sistem peringatan dini seperti pemasangan alat pendeteksi longsor dan beberapa jalur efakuasi lengkap dengan kamp pengungsian dan pengobatan dengan jalan akses yang sebisa mungkin dapat dijangkau dengan mudah.
10. Tanamkan jiwa mitigasi kepada semua anggota keluarga dan orang-orang disekitar kita.
11. Catat dan hapalkan nomor-nomor penting seperti nomor tim tanggap darurat bencana, BNPB, rumah sakit, kepolisian setempat, dan keluarga yang bisa dihubungi. Berhubung di daerah rawan longsor biasanya memiliki sinyal yang buruk bisa diupayakan untuk membuat saluran radio komunikasi.

l2 Apa yang dilakukan pada saat terjadi tanah longsor
1. Berdo’a, meminta perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan yang Esa, sembari juga berupaya untuk tidak panik namun berfikir cepat mencari tempat perlindungan yang aman
2. Mengingat kejadian longsor berlangsung sangat cepat perhitungkan upaya untuk menyelamatkan diri sendiri dan orang lain.
3. Apabila Anda di dalam rumah dan terdengar suara gemuruh, segera ke luar cari tempat lapang dan tanpa penghalang, jauhi bangunan tinggi, pepohonan, dan tiang listrik.
4. Apabila Anda di luar, cari tempat yang lapang dan perhatikan sisi tebing atau tanah yang mengalami longsor.

Apa yang dilakukan sesudah terjadi tanah longsor
1. Jangan segera kembali ke rumah Anda atau lokasi longsor, perhatikan apakah longsor susulan masih akan terjadi.
2. Meminta bantuan dengan menghubungi pihak-pihak terkait
3. Apabila diminta untuk membantu proses evakuasi, gunakan sepatu khusus dan peralatan yang menjamin keselamatan seperti baju berwarna cerah, celana tebal, sepatu boot, tali, sarung tangan, masker, helm/pelindung kepala, peluit, dan senter.
4. Petakan zona-zona evakuasi korban secara sistematis dengan berpatokan pada kemungkinan lokasi korban tertimbun.
5. Perhatikan kondisi tanah sebagai pijakan yang kokoh setiap kali melangkah. Kondisi ini mengingat tanah timbunan longsor menyisakan rongga-rongga yang sewaktu-waktu dapat menyebabkan amblesan dan membahayakan keselamatan manusia yang berada diatasnya.
6. Apabila harus menghadapi reruntuhan bangunan untuk menyelamatkan korban, kenali kemungkinan kondisi korban, pastikan tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk atau menunggu pihak berwenang untuk melakukan evakuasi korban. Korban akibat gerakan tanah/batuan biasanya tertimbun yang bisa menyebabkan patah tulang dan sesak napas.
Jika kita berpikir kejadian longsor berlangsung sangat cepat, maka dari itu tindakan pencegahan sebelum terjadi bencana adalah pilihan terbaik untuk mengurangi resiko terkena bencana longsor.

Sumber dan bahan bacaan

Heryadi, Rachmat. ____ . Workshop Disaster Management “Fenomena dan Antisipasi Bencana Geologi. Kerja sama Pemda NTB dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda NUSRA.
Remendo, Juan; Bonachea, Jaime; Cendrero, Antonio. 2007. Quantitative landslide risk assessment and mappingon the basis of recent occurrences. ____ . Elsevier: Geomorphology 94 (2008) 496–507
Sadisun, Imam. ____ . Bahan Presentasi Mitigasi Bencana Geologi “Longsoran”. Bandung. EngGeo Laboratory, ITB Bandung
Wafi, Abdurahman; Mashuri. ____ . Analisisa Bahaya Landslide ( Bencana Gerakan Bawah Tanah) untuk Mengurangi Resiko pada Masyarakat. Surabaya. FMIPA ITS.

http://www.bnpb.go.id; http://www.iagi.or.id; http://www.kemenkopmk.go.id; http.//www.lipi.go.id; http://www.tribunnews.com

Salam
Mohammad Hisyam Adnan
Hisyam_geo@yahoo.co.id

Advertisements

Entry filed under: GeoHazard. Tags: , , , , .

EXPLORATION STARTS WITH FINDING OIL IN THE MIND Mengenal Sosok J.A. Katili, Bapak Geologi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

December 2014
M T W T F S S
« Nov   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: