Indonesia kembali berduka dengan kejadian bencana banjir bandang di garut. Hingga tulisan ini dibuat tercatat ada 23 orang dinyatakan meninggal dunia, empat orang mengalami luka berat, 27 orang luka ringan, dan 12 orang dinyatakan hilang. Dengan kejadian ini sudah tentu kita bertanya-tanya penyebabnya. Apalagi jarang sekali Garut mengalami banjir yang besar. Dari keterangan Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir bandang yang terjadi di Garut karena rusaknya daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk. Kondisi ini diperparah dengan curah hujan tinggi yang melanda 5 kabupaten di Provinsi Jawa Barat.

Suatu DAS dinyatakan buruk, kata Sutopo, jika koefisien rasio sungainya lebih besar dari 80. Tapi yang terjadi di DAS Cimanuk adalah koefisien rasio sungai 713. “Ini menunjukkan terjadi kerusakan yang masif di DAS tersebut sehingga, jika terjadi hujan lebat, selalu dikonversi dengan limpasan permukaan atau debit sungai yang menyebabkan banjir. Ini yang terjadi tadi malam,” tuturnya.

Dia mengatakan hujan awalnya terjadi pada Selasa malam sekitar pukul 19.00. Hujan terus bertambah lebat dan pada pukul 22.00. Sungai Cimanuk meluap dengan kecepatan besar. Puncaknya terjadi pada pukul 01.00 WIB, ketika terjadi banjir bandang dan tanah longsor di tujuh kecamatan di Kabupaten Garut.

Pada Rabu pagi, kata Sutopo, sebagian besar air sudah surut. Ini juga menunjukkan DAS Cimanuk sudah kritis. “Begitu cepatnya terjadi hujan, melimpas menjadi banjir yang besar, tapi sesudah hujan reda langsung surut dengan cepat,” katanya.

Dalam rangka menyelamatkan masyarakat dari ancaman bencana banjir dan longsor, menurut Sutopo, perlu upaya untuk mengembalikan fungsi ekosistem lingkungan di daerah aliran sungai. Selama kawasan resapan aliran berkurang, kawasan hutan masih sangat minim, pertanian demikian ekspansif di daerah perbukitan dan pegunungan tanpa dibarengi dengan upaya konservasi tanah dan air, maka bencana banjir serta longsor akan terus meningkat. “Untuk menyelamatkan masyarakat indonesia dari ancaman banjir dan longsor yang terus menigkat, perlu mengembalikan fungsi ekosistem di daerah aliran sungai,” papar Sutopo.

Sumber:

Rabu, 21 September 2016 22.23 WIB (http://www.netralnews.com/news/kesra/read/25140/bertambah.korban.meninggal.banjir.garut.mencapai.23.orang update)

Rabu, 21 September 2016 20:24 WIB (http://nasional.kompas.com/read/2016/09/21/20242211/bnpb.banjir.bandang.di.garut.karena.rusaknya.daerah.aliran.sungai.cimanuk)

Rabu, 21 September 2016 17:55 WIB (https://nasional.tempo.co/read/news/2016/09/21/058806151/banjir-garut-bnpb-das-cimanuk-kritis)

 

 

Advertisements