Menanggapi Isu Pemindahan Ibukota

19 Apr 2017 at 6:39 am Leave a comment

move jktIsu pemindahan Ibukota dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sudah lama disuarakan. Kota Palangkaraya dijadikan sebagai kandidat Ibukota oleh Presiden pertama kita, Ir. Soekarno ketika pertama kali menancapkan tonggak pembangunan Kota Palangkaraya pada tahun 1955. Isu ini sempat booming pada era pemerintahan SBY, kini berita mengenai pemindahan Ibukota kembali digaungkan pada era pemerintahan Jokowi.

Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi mengatakan, wacana pemindahan ibu kota muncul beberapa waktu lalu ketika Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Palangkaraya.

“Wacana ini muncul ketika Presiden beberapa waktu lalu, bukan tahun ini ya, tahun kemarin, berkunjung ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, itu muncul di sana bahwa ada keinginan masyarakat di sana yang mengacu pada statement yang pernah dikeluarkan oleh Bung Karno, untuk dijadikannya ibu kota negara di Palangkaraya,” kata Johan.

Sebelumnya beberapa negara termasuk negara tentangga kita Malaysia, pada tahun 2001 memutuskan memindahkan pusat administrasi kenegarannya ke Putrajaya yang berjarak 38,1 Km dari Kuala Lumpur. Yang paling fenomenal adalah pemindahan Ibukota Brasil pada tahun 1960 dari Rio de Jeneiro ke Brasilia yang berjarak sekitar 1.168,8 Km, butuh waktu hingga dua dekade masa pemerintahan Presiden Juscelino Kubitschek untuk meyakinkan warganya, bahkan hingga mengiming-imingi warganya dengan uang supaya mau pindah ke Brasilia.

Pemindahan ibukota dilakukan bukan tanpa alasan. Belajar dari kegagalan demi kegagalan sebuah konsep “kota” tradisional yang tak kunjung terpecahkan telah memberikan kerugian yang sangat besar. Permasalahan utama perkotaan seperti kemacetan, kepadatan penduduk, polusi, dan tingkat kriminalitas menjadi penyebab utama. Kenyatannya Jakarta mengalami masalah serupa bahkan lebih rumit terkait masalah banjir dan peyediaan lahan yang kerap kali menghambat program-program pemerintah *red.

Wacana pemindahan ibukota juga muncul atas desakan adanya kebutuhan pembentukan pusat ekonomi baru. Menurut Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, Pulau Jawa terlalu mendominasi kegiatan perekonomian Indonesia. Itu pun aktivitas perekonomian di Jawa lebih banyak terkosentrasi di kawasan Jabodetabek atau DKI Jakarta, belum merata ke seluruh lapisan.

Dengan memindahkan ibukota maka akan membentuk pusat ekonomi baru. Ini adalah dampak positif yang diharapkan. Bila rencana tersebut benar-benar terealisasi, beban Jakarta yang kini dianggap terlalu berat, karena berperan ganda sebagai pusat pemerintahan, keuangan sekaligus pusat bisnis, dapat berkurang.

Pemindahan ibukota bukan merupakan perkara yang mudah. Butuh persiapan, waktu, dan dana yang sangat besar. Namun demikian wacana pemindahan ibukota dari Jakarta bukan hal yang mustahil untuk dilakukan *red.

Pemerintah telah menunjuk Bappenas untuk melakukan kajian mendalam terkait rencana pemindahan Ibukota dari Jakarta ke Palangkaraya. Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menargetkan kajian pemindahan ibu kota dari Jakarta ke wilayah baru di luar Pulau Jawa akan selesai tahun ini.

Bambang mengatakan tim Bappenas sedang menganalisis kriteria wilayah, kemudian kesiapan dan ketersediaan lahan, hingga sumber pendanaan untuk pembangunan ibu kota baru tersebut.

Penilaian wilayah menyangkut daya dukung lingkungan itu sendiri, terutama terkait dengan sumber daya alam utama seperti air, bahan material, dan ketersediaan lahan. Sedangkan sumber daya lainnya adalah tersedianya akses terhadap infrastruktur kelistrikan, transportasi, dan bahan bakar *red.

Sumber daya yang sifatnya dasar sangat penting untuk memenuhi keberlanjutan suatu wilayah yang akan menjadi pusat pemerintahan yang dengan kata lain akan menjadi pusat ekonomi baru *red.

Penilaian terhadap kapasitas daya dukung lingkungan dilakukan dengan menetapkan skor minimal sebuah wilayah  yang layak dijadikan sebuah Ibukota. Detail penilaian tersebut akan menjadi dasar dalam membuat masterplan rencana pengembangan dan tata ruang sebuah wilayah kedepannya. Pengembangan wilayah harus meninggalkan konsep lama dan mulai berpijak pada konsep kota masa depan *red.

Advertisements

Entry filed under: Isu, Uncategorized. Tags: , .

Frontal Apakah Batu Bisa Ngomong?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

April 2017
M T W T F S S
« Sep   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts


%d bloggers like this: