Jak_palSeorang Geologist lagi-lagi dituntut untuk menjawab pertanyaan terkait isu pemindahan ibukota. Seorang Geologist memang bukan ahli tata kota atau planologi, tetapi Geologist tau bagaimana sebuah peradaban terbangun itu butuh sumber daya alam sebagai motor penggeraknya. Disamping itu Geologist memiliki kemampuan untuk menganalisis resiko bencana, sehingga diperlukan langkah mitigasi pencegahan yang tepat, mengingat potensi bencana tidak benar-benar bisa dihilangkan.

Geologist seharusnya dilibatkan dalam membantu memberikan masukan kepada Bappenas, selaku badan resmi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melakukan studi mendalam terhadap Kota Palangkaraya untuk menggantikan Jakarta sebagai capital city of Indonesia.

Para Geologist pertama kali akan melakukan kajian terhadap potensi bencana sebagai skenario terburuk. Melakukan simulasi hingga menganalisa area terdampak dan dampak kerusakannya. Membuat suatu kesimpulan jika memang bencana itu benar-benar terjadi apakah suatu kota itu dapat bertahan atau tidak.

Belajar dari Bencana di Jakarta

Belajar dari Jakarta yang identik dengan masalah banjir, ibukota yang baru nantinya harus terbebas dari banjir. Pemetaan Derah Aliran Sungai, area konservasi, dan dataran-banjir harus dilakukan. Jika perlu melakukan kajian mitigasi dengan membuat infrastruktur penanggulangan banjir dan penataan area koservasi. Mencontoh dari kota Bangkok, Thailand yang memindahkan alur sungai alami agar tidak melewati kota atau Kota Amsterdam, Belanda yang membuat tanggul mengelilingi kota. Namun cara tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit baik pembangunannya maupun perawatannya, akan lebih realistis dan murah jika kota selanjutnya memperhatikan dan menerapkan konsep kota yang berwawasan lingkungan (ecocity), dengan berkonsentrasi pada upaya pencegahan, pelestarian daerah resapan, atau penerapan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.

Selain banjir, Jakarta dihadapkan dengan masalah penurunan tanah atau subsidence. Penurunan tanah di Jakarta umumnya disebabkan karena proses pemampatan alami, selain itu pengambilan air tanah yang dilakukan secara berlebihan juga mempunyai andil terhadap bencana ini.

Bawah tanah Jakarta umumnya disusun oleh endapan muda berumur holocene sampai recent, yang secara alami akan mengalami pemampatan, sebuah fase paling awal tahap pembentukan batuan atau lithification. Kalau melihat Peta Geologi lembar Jakarta Raya, daerah Jakarta Pusat mulai dari kawasan monas ke arah utara terdiri dari endapan delta berumur muda dan lunak, sedangkan daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur bagian selatan di dominasi oleh endapan vulkanik yang lebih keras. Jika kita meng-overlay-kan peta penurunan muka tanah di Jakarta dengan peta geologi Jakarta ternyata berkorelasi dengan tipe endapannya. Penurunan muka tanah hampir semuanya terjadi di kawasan monas ke arah utara yang notabene tersusun oleh endapan muda dan lebih lunak.

Derajat penurunan muka tanah di Jakarta tidak seragam hal ini bisa disebabkan karena pengambilan air tanah yang berlebihan. Penulis masih berasumsi, dan untuk memastikan hal ini perlu ada data titik-titik pengambilan air tanah, kapasitas, dan produksi rata-rata pengambilan air tanah, ditambah data cekungan air tanah, data lapisan aquifer, dan data hidrologi.

Mencegah hal ini, pengganti Ibukota setidaknya  memiliki ruang bawah tanah yang didominasi oleh batuan yang berumur tua atau berupa batuan keras yang memiliki derajat pemampatan yang rendah. Pembagian daerah/kawasan harus memperhatikan ruang bawah tanah dan tipikal  bangunan yang diperbolehkan dengan tetap memperhatikan desain rancang bangun gedung dan peruntukannya.

Permasalahan air tanah sebenarnya bisa diatasi dengan penyediaan data yang akurat, yaitu data cekungan air tanah, kapasitas aquifer, daerah serapan/konservasi, DAS, data serapan air permukaan, dan data hidro-geologi lainnya. Pengambilan air tanah harus dikontrol sedemikian rupa sehingga tidak melebihi kapasitasnya. Jika pengambilan air tanah tidak terkontrol maka yang terjadi adalah kekosongan ruang pori batuan yang sebelumnya terisi air sehingga terjadi subsidence. Didaerah pesisir kekosongan pori batuan akan diisi oleh air asin yang dikenal dengan intrusi air laut. Menyebabkan krisis air, dan korosi terhadap pondasi bangunan yang ketika dibangun tidak mengakomodir hal ini.

Diwilayah pesisir Jakarta penurunan tanah memiliki akibat yang lebih buruk karena akan diikuti banjir rob yang disebabkan naiknya muka laut. Siklus pemanasan global menyebabkan mencairnya es kutub sehingga ikut mempercepat naiknya muka laut. Kedua proses ini ibarat formula yang sempurna untuk mempercepat tenggelamnya Jakarta.

Konstruksi Giant Sea Wall of Jakarta ditawarkan oleh para ahli sipil karena hal serupa terbukti efektif dapat meminimalisir dampak naiknya muka laut. Masalahnya adalah butuh investasi yang sangat besar hingga ratusan triliun, sehingga tidak mungkin skema pembiayaan dengan menggunakan APBN, maka dari itu pihak swasta seperti developer dilibatkan untuk berinvestasi. Pelajaran dari polemik reklamasi teluk Jakarta yang merupakan bagian dari konstruksi giant sea wall adalah desain rancang bangun dan prosedur administratif-teknis harus dilakukan secara terstruktur. Sehingga dalam pembangunannya telah memperhatikan dampak kerusakan lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Terlepas dari polemik dan kepentingan politis, Giant Sea Wall menjadi satu-satunya solusi paling masuk akal untuk meghadapi ancaman Jakarta yang kian hari kian tenggelam.

Sebenarnya yang paling dikhawatirkan oleh para ahli kebumian adalah bencana yang belum pernah terjadi di Jakarta, yaitu bencana gempa yang dapat menyebabkan liquifaction atau liquifaksi. Liquifaksi terjadi pada enadapan yang belum solid artinya banyak mengandung rongga atau pori. Pori tersebut biasanya terisi air. Ketika terjadi getaran gempa maka air dalam pori tersebut akan meminimalkan gaya gesek antar partikel. Sehingga terjadi reorientasi partikel-partikel ke kontak antar partikel yang lebih seimbang. Proses ini menyebabkan turunnya muka tanah secara signifikan yang dapat berakibat pada kegagalan pondasi bangunan diatasnya. Parahnya lagi bangunan-bangunan gedung tinggi di Jakarta perlu di data, apakah dalam rancang bangunnya sudah mengakomodir getaran gempa dan amblesan akibat liquifaksi.

Masih minimnya data terkait bencana ini merupakan lubang hitam (black hole) bagi Jakarta. Tindakan pencegahan yang dapat di lakukan adalah melakukan sertifikasi menyeluruh, baik untuk bangunan yang sudah, sedang dan seterusnya akan dibangun sekaligus follow up atau tindak lanjutnya. Disamping juga penelitian dan penyediaan data melalui pemetaan jalur-jalur gempa (epicenter) berupa jalur patahan di Jakarta dan sekitarnya dengan penggunaan data seismik, gaya berat, data bor, dan lain sebagainya. Simulasi terhadap segala kemungkinan gempa di Jakarta di lakukan untuk melihat tingkat kerusakan akibat gempa dan potensi liquifaksi.

Sumberdaya Alam yang Dibutuhkan untuk Keberlanjutan Sebuah Kota

Masalah sumberdaya atau daya dukung lingkungan menjadi sangat penting untuk memastikan sebuah kota dapat berkembang secara berkelanjutan (sustainable). Calon pengganti Ibukota nantinya akan menjadi pusat pemerintahan, dan tentu akan diikuti sebagai pusat perekonomian sehingga akan terjadi peningkatan kepadatan penduduk secara progressive signifikan. Maka dari itu, kota ini nantinya harus bisa menaungi hingga jutaan manusia yang akan tinggal di dalamnya.

Berbicara mengenai manusia dan kota sebagai pusat ekonomi dan peradaban maka kebutuhan manusia yang paling mendasar harus terpenuhi, terutama kebutuhan akan ketersediaan lahan dan air baku.

Studi mengenai ketersediaan air, kapasitas, dan sebarannya menjadi sangat penting. Data air permukaan dan mata air dapat menjadi sumber air baku, jika dibangun bendungan maka dapat berfungsi ganda untuk penyediaan energi listrik dan pengendalian banjir. Konservasi air tanah perlu digalakan dengan menjaga fungsi daerah resapan dan mengatur secara ketat eksploitasinya. Pembangunan water waste treatment juga harus dilakukan di awal sebagai salah satu upaya konservasi air untuk menghindari pencemaran terhadap air bawah tanah dan air permukaan.

Kapasitas air terpasang dan perkembangan sebuah kota biasanya akan mencapai deadlock, sehingga perlu dicari supply air bersih baru sebagai cadangan.

Kedua adalah ketersediaan lahan. Jakarta memiliki luas 661.5 Km2, hampir tiga kali lipat lebih luas dibanding kuala lumpur, tetapi memiliki tingkat kepadatan penduduk yang jauh lebih padat dan menjadi salah satu kota terpadat di dunia. Masalah ketersediaan lahan di Jakarta menjdi isu yang sering dibahas. Kenyatannya jumlah penduduk DKI tidak sebanding dengan ketersediaan lahan di Jakarta, menyebabkan melambungnya harga lahan. Efeknya adalah berkembangnya pemukiman kumuh dan backlog perumahan, di sisi lain kawasan penyangga DKI sebagai alternatif peyediaan lahan untuk hunian saat ini tidak efektif karena kemacetan dan tidak tersedianya angkutan massal yang memadai.

Nampaknya permasalahn di DKI Jakarta sangat rumit, lebih rumit dari yang dibayangkan. Hampir semua permasaahan urban dapat ditemukan di Jakarta. Berbagai solusi juga sulit direalisaasikan karena keterbatasan politis dan anggaran. Jabodetabek atau yang lebih dikenal sebagai Greater Jakarta juga masih mengedepankan ego teritorial. Bagi saya sendiri memandang perlu ada politicall will dari pemerintah pusat untuk menyelesaikan masalah Jakarta. Pemindahan ibukota dengan meninggalkan masalah Jakarta tanpa memberikan solusi bisa jadi tindakan paling pengecut yang dilakukan generasi ini.

Saya yakin ada jalan untuk menjadi generasi Ksatria. Pemerintah DKI sudah sangat kewalahan, maka dari itu Pemerintah Pusat harus bersama-sama melakukan tindakan yang luar biasa yang sifatnya mendesak untuk menyelamatkan Jakarta dan orang-orang yang menggantungkan hidup di dalamnya. Pemerintah, saya yakin sudah sangat sadar bahwasanya setiap kebijakan selalu menimbulkan pro dan kontra, tindakan itu butuh pengorbanan, mengorbankan bukan berarti lepas begitu saja, tetapi diikuti dengan solusi yang win-win. Pemerintah berkorban, masyarakat berkorban, semua harus berkorban demi Jakarta yang lebih baik bukan untuk diri kita, tapi lebih dari itu untuk keberlanjutan Jakarta, demi anak cucu kita kelak.

Advertisements