Antara Data dan Investasi Mineral Industri

4 Jun 2017 at 5:53 pm Leave a comment

statisBeberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam sebuah tim untuk melakukan studi mengenai potensi mineral industri di Indonesia. Selama pekerjaan ini saya aktif mengumpulkan data dan informasi yang relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. Data-data tersebut kemudian diolah untuk mendapatkan gambaran mengenai potensi endapan mineral non logam di Indonesia yang meliputi potensi sumberdaya dan cadangan, trend produksi dan permintaan serta pandangan mengenai berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan.

Bukan tanpa kendala, pekerjaan ini memakan waktu hampir sebulan, meleset jauh dari target yang direncanakan. Tim kami biasa mengkaji mengenai market & demands berbagai komoditas tambang, tetapi untuk urusan mineral non logam benar-benar pekerjaan yang melelahkan. Ketersedian data menjadi kendala utama. Di sisi lain kapasitas data tidak begitu lengkap dan butuh usaha yang keras untuk mengumpulkan data yang aktual dan valid. Tidak seperti komoditas mineral logam dan batubara yang sudah menjadi komoditas unggulan dengan ­record cukup baik, sebaliknya komoditas mineral non logam memiliki catatan yang buruk.

Menyadari hal itu tim kami menemui para pelaku industri mineral non logam dari berbagai komoditas untuk uji materiil dari data yang kami dapatkan sebelumnya, disamping mengumpulkan data dan informasi yang relevan dari sisi para pengusaha. Tim kami juga mengumpulkan informasi lainnya dari data pemerintah seperti BPS, Distamben Pemda, BKPM, dsb. Beberapa kali kami juga melakukan sesi tanya jawab dalam suatu forum dan seminar yang dihadiri kalangan akademisi, pelaku usaha, dan perwakilan pemerintah tentang potensi pengembangan mineral industri di Indonesia.

Pada intinya semuanya setuju bahwa ketersediaan data tentang potensi mineral non logam di Indonesia harus diperbaiki. Ketersediaan data menjadi sangat penting sebagai bahan analisis bagi berbagai pihak yang berkepentingan. Untuk para pengusaha sendiri data ini penting untuk membuat keputusan investasi dan ekspansi bisnis perusahaan di sektor ekstraksi mineral non logam, supplier dan industri berbahan baku mineral non logam. Inilah yang diharapkan untuk terwujudnya rantai pasok mineral industri untuk ikut berkontribusi dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja didaerah penghasil mineral non logam.

Dari sisi teknis, data dan informasi sumberdaya (resources) mineral non logam masih perlu ditingkatkan setidaknya menjadi status cadangan (reserves). Pemerintah bisa memberikan stimulus sehingga investor akan sangat terbantu dan tinggal mencari peluang demand-nya. Kolaborasi pemerintah dan swasta seperti ini akan menaikkan minat investasi sektor mineral non logam yang saat ini masih belum optimal.

Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, adalah sebuah momentum untuk penyediaan data dalam upaya menumbuhkan minat investasi pengembangan mineral non logam. Saya kira ini sejalan dengan program pemerintah saat ini yang concern mengenai supply material mineral non logam yang masih banyak bergantung pada import.

Sesuai dengan road map pengembangan industri mineral bahwa tidak hanya sebatas melakukan penambangan dan menjualnya dalam bentuk bahan mentah (raw material) tetapi diharapkan berupa produk dengan nilai tambah (added value), sebenarnya disinilah celah atau peluang pasar mineral industri di Indonesia. Produk mineral industri berupa  raw material umumnya digunakan di sektor-sektor konstruksi, properti dan bahan bangunan untuk produk aggregate, batugamping, lempung, pasir kuarsa, feldspar, dsb. Pasar untuk produk ini terus meningkat. Dengan investor beralih pada industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi dengan nilai tambah maka industri turunan akan lebih efektif dalam sisi logistik. Produk ini menyasar industri manufaktur, industri kimia, dan industri-industri lainnya yang saat ini bahan bakunya masih mengandalkan import dan harganya jauh lebih bagus dibandingkan menjualnya dalam bentuk bahan mentah. Dengan melimpahnya endapan mineral non logam di Indonesia tentu menjadi peluang pegembangan industri pengolahan yang lebih kompetitif dibandingkan produk import, karena pada dasarnya industri mineral non logam sangat sensitif terhadap biaya logistik.

Begitu pentingnya data sebagai bahan masukan dan penentuan kebijakan bagi para investor. Dengan tersedianya data diharapkan para investor akan semakin giat dalam ikut mengembangkan produk mineral industri dengan nilai tambah. Keterdapatan endapan yang umumnya berada di daerah-daerah maka manfaat ekonomi juga akan terdistribusi ke daerah-daerah. Disamping juga dengan terpenuhinya supply produk olahan mineral non logam, maka industri turunannya akan lebih efisien dalam mendapatkan bahan baku.

Advertisements

Entry filed under: Isu. Tags: , , , .

Geologist Dan Isu Pemindahan Ibukota Idle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

June 2017
M T W T F S S
« Apr   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: